Jakarta, aktual.com – Industri makanan dan minuman (food and beverage/F&B) di Singapura tengah menghadapi tekanan berat. Ratusan restoran dan kafe dilaporkan tutup setiap bulan akibat lonjakan biaya sewa, tenaga kerja, serta persaingan yang semakin ketat.
Dilansir dari VnExpress, Jumat (13/2/2026), data Accounting and Corporate Regulatory Authority mencatat sebanyak 3.148 bisnis makanan menghentikan operasionalnya sepanjang 2025. Angka tersebut meningkat dibandingkan 3.047 bisnis pada 2024, atau setara dengan rata-rata sekitar 250 restoran tutup setiap bulan.
Gelombang penutupan itu turut menyeret sejumlah nama besar. Restoran Cantonese legendaris Ka-Soh yang telah berdiri 86 tahun di Greenwood Avenue, resmi menutup operasionalnya pada 28 September setelah menghadapi kenaikan sewa hingga 30 persen.
Menyusul kemudian Relish, restoran kasual yang telah beroperasi selama 19 tahun dan dijadwalkan tutup pada 29 Maret. Selain itu, restoran fine dining Ibid yang dikelola Woo Wai Leong, pemenang MasterChef Asia 2015, juga akan menghentikan operasionalnya.
“Kami sudah bekerja sangat keras selama bertahun-tahun, tetapi rasanya kami sudah tidak sanggup lagi,” ujar pemilik Ka-Soh, Cedric Tang, seperti dikutip dari Channel NewsAsia (CNA).
Tang menjelaskan, untuk menutup kenaikan sewa dari sekitar S$12.000 menjadi S$15.000 per bulan, pihaknya harus menjual tambahan 300 mangkuk mi sup ikan setiap bulan. Namun, menaikkan harga bukan opsi bagi bisnis warisan seperti Ka-Soh yang ingin tetap terjangkau bagi pelanggan setia.
Ketua Singapore Tenants United for Fairness (SGTUFF), Terence Yow, menyebut mayoritas penyewa melaporkan kenaikan sewa signifikan. “Di dalam komunitas kami, mayoritas penyewa melaporkan kenaikan sewa antara 20 hingga 49 persen,” ujarnya.
Meski demikian, kalangan pengamat properti menilai persoalan sewa bukan satu-satunya faktor. Ethan Hsu dari Knight Frank Singapura mengatakan banyak kontrak diperbarui setelah periode pandemi COVID-19, sementara biaya konstruksi dan perawatan juga meningkat.
“Banyak orang terpaku pada anggapan bahwa pemilik properti serakah. Namun kenyataannya, sewa hanyalah salah satu komponen dari berbagai biaya yang harus ditanggung penyewa,” jelas Hsu.
Selain itu, biaya tenaga kerja turut menjadi beban berat. Restoran kesulitan merekrut koki dan staf dapur, sementara perusahaan besar mampu menawarkan gaji lebih tinggi. Asosiasi Restoran Singapura bahkan menyebut industri tengah menghadapi krisis tenaga kerja serius.
Ironisnya, jumlah gerai makanan justru terus bertambah. Data menunjukkan hampir 23.600 gerai makanan beroperasi di Singapura tahun lalu, meningkat tajam dari sekitar 17.200 pada 2016. Persaingan pun semakin sengit karena pemain baru terus bermunculan.
Mengutip The Straits Times, Deputi Perdana Menteri Gan Kim Yong mengungkapkan data tersebut saat menjawab pertanyaan di parlemen.
“Membuka restoran itu mudah, tetapi menjalankan restoran dengan baik adalah hal yang berbeda,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa mempertahankan bisnis agar tetap menguntungkan membutuhkan manajemen kuat, konsistensi kualitas makanan dan layanan, serta kemampuan membedakan diri di tengah persaingan.
Data juga menunjukkan lebih dari 60 persen restoran yang tutup pada 2025 baru beroperasi kurang dari lima tahun. Bahkan sekitar 82 persen di antaranya belum pernah membukukan keuntungan sejak pertama kali dibuka.
Pengamat industri menilai banyak pelaku usaha baru terlalu mengandalkan semangat tanpa perencanaan model bisnis yang matang. Di sisi lain, konsumen Singapura yang kini lebih sering makan di luar negeri seperti Johor Bahru turut memengaruhi permintaan domestik.
Ke depan, pelaku usaha yang ingin bertahan dinilai perlu menjaga efisiensi operasional, memastikan biaya sewa tidak melebihi 20 persen dari total pengeluaran, serta memanfaatkan teknologi dan layanan pesan antar untuk memperluas pasar di tengah tekanan industri yang semakin berat.
Artikel ini ditulis oleh:
Tino Oktaviano

















