Washington, aktual.com – Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance mengatakan putaran kedua perundingan dengan Iran berlangsung produktif dalam beberapa hal, tetapi belum bersedia untuk terlibat dalam pembahasan sejumlah “garis merah” yang ditetapkan Presiden Donald Trump.
Vance, pada Selasa (17/2), tidak menyebutkan secara rinci “garis merah” mana yang ditolak untuk dibahas oleh pemerintah Iran, tetapi ia menegaskan bahwa kepentingan utama Amerika Serikat tidak ingin Iran memiliki senjata nuklir.
“Dalam beberapa hal, itu berjalan baik. Mereka sepakat untuk bertemu setelahnya. Tetapi dalam hal lain, sangat jelas bahwa presiden telah menetapkan sejumlah garis merah yang belum bersedia diakui dan dibahas oleh pihak Iran,” kata wakil presiden dalam wawancara dengan Fox News.
“Kami akan terus mengupayakannya. Namun tentu saja, presiden berhak untuk menentukan kapan bahwa diplomasi telah mencapai batas alaminya. Kami berharap tidak sampai pada titik itu, tetapi jika itu terjadi, itu akan menjadi keputusan presiden,” tambahnya.
Delegasi Iran dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, sementara tim Amerika Serikat dipimpin oleh utusan khusus Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner.
Araghchi mengatakan telah terjadi kemajuan di Jenewa dan menggambarkan suasana perundingan sebagai lebih konstruktif.
“Diputuskan bahwa kedua belah pihak akan mengerjakan draf potensi kesepakatan, dan setelah saling bertukar teks. Waktu untuk putaran pembicaraan berikutnya akan ditentukan,” kata Araghchi.
Diplomat tertinggi Iran itu menambahkan bahwa terdapat jalur yang jelas ke depan untuk negosiasi nuklir dengan pihak Amerika, yang dinilai positif dari perspektif Iran.
Pada 6 Februari, Oman menjadi tuan rumah putaran pertama pembicaraan tidak langsung di Muscat. Pembicaraan tersebut merupakan yang pertama sejak Trump memerintahkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni.
Sejak itu, Trump mengarahkan peningkatan kekuatan militer AS di kawasan seraya mengancam Iran agar mencapai kesepakatan dengan Washington.
Artikel ini ditulis oleh:
Rizky Zulkarnain

















