Warga mengamati sampah kayu gelondongan pascabanjir bandang di Desa Aek Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Sabtu (29/11/2025). ANTARA FOTO/Yudi Manar/agr/am.
Warga mengamati sampah kayu gelondongan pascabanjir bandang di Desa Aek Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Sabtu (29/11/2025). ANTARA FOTO/Yudi Manar/agr/am.

Jakarta, Aktual.com — Center for Analysis and Applying Geospatial Information (CENAGO) Institut Teknologi Bandung (ITB) menyimpulkan banjir yang melanda sejumlah wilayah Sumatra pada akhir 2025 dipicu oleh curah hujan ekstrem akibat Siklon Tropis Senyar yang melampaui standar mitigasi nasional.

Kesimpulan tersebut diperoleh dari kajian forensik berbasis analisis presipitasi ekstrem, karakteristik hidrologi tiga daerah aliran sungai (DAS Badiri, Garoga, dan Batang Toru), perubahan tutupan lahan, serta simulasi hidrologi-hidrolika.

Koordinator Tim Riset CENAGO, Heri Andreas, mengatakan intensitas hujan saat kejadian berada jauh di atas kapasitas desain sistem pengendalian banjir yang berlaku saat ini.

“Model probabilitas kami menunjukkan kejadian ini masuk kategori R700 hingga R1000, yang artinya siklus kejadian sekali dalam 700 hingga 1.000 tahun. Angka ini melampaui standar mitigasi banjir yang umumnya dirancang hingga R50,” kata Heri dalam keterangannya, Jumat (20/2/2026).

Menurut dia, temuan tersebut menegaskan bahwa peristiwa banjir berada pada level ekstrem yang secara perencanaan memang tidak diantisipasi oleh infrastruktur pengendali banjir yang ada.

Selain faktor cuaca, CENAGO juga menganalisis perubahan tutupan lahan oleh sejumlah korporasi. Hasilnya menunjukkan kontribusi alih fungsi lahan terhadap luas DAS relatif kecil dibandingkan skala curah hujan ekstrem.

Berdasarkan perhitungan tim riset, porsi perubahan tutupan lahan tercatat sekitar 1,6 persen untuk PT AR, 0,4 persen untuk PT TBS, dan 0,02 persen untuk PT NSHE.

“Jika secara kuantitatif kontribusi perubahan tutupan lahan relatif kecil, maka penetapan pertanggungjawaban mutlak atau strict liability terhadap pihak tertentu perlu ditinjau kembali demi objektivitas,” ujar Heri.

Dalam kajiannya, CENAGO tidak hanya menggunakan digitasi citra satelit resolusi tinggi, tetapi juga menggabungkan data presipitasi dari BMKG dan NOAA Amerika Serikat, pemodelan DAS dan sub-DAS, digital elevation model (DEM), serta parameter hidrologi-hidrolika.

Analisis citra menunjukkan curah hujan pada akhir November 2025 mencapai kategori ekstrem hingga sangat ekstrem, yakni 150–300 milimeter per hari dan bahkan melampaui 300 milimeter per hari di sejumlah lokasi.

Temuan tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Memahami Root Cause Banjir Sumatera 2025 untuk Rekonsiliasi Konklusi Berbasis Keilmuan yang digelar pada 18 Februari 2026 di Jakarta.

Dalam forum yang sama, perwakilan BMKG menyatakan fenomena Siklon Tropis Senyar merupakan kejadian langka yang memicu hujan ekstrem di wilayah Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. Kombinasi hujan lebat dan longsor kemudian memicu banjir bandang, termasuk di Desa Garoga, Tapanuli Selatan.

Dari sisi geomorfologi, akademisi ITB Dr. Ahmad Imam Sadisun menjelaskan zona Toba Tuff di hulu DAS Garoga memiliki kemiringan sangat curam sehingga rentan longsor saat diguyur hujan ekstrem.

CENAGO menegaskan pentingnya penggunaan data geospasial berketelitian tinggi dalam pengambilan keputusan kebencanaan. Pendekatan berbasis sains dinilai krusial agar setiap kesimpulan penyebab bencana disusun secara objektif, terukur, dan proporsional.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi