Jakarta, Aktual.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan pasokan energi nasional tetap aman meski harga minyak dunia telah melampaui asumsi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Pemerintah saat ini menghitung dampak lonjakan harga minyak terhadap subsidi energi sekaligus menjaga stabilitas pasokan dalam negeri.

Harga minyak mentah global naik ke kisaran US$78–80 per barel, melampaui asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 yang dipatok US$70 per barel. Kenaikan terjadi di tengah eskalasi konflik Timur Tengah yang berdampak pada jalur distribusi energi strategis di Selat Hormuz.

“Ini yang harus kita hati-hati, karena berdampak pada kenaikan subsidi yang ditanggung negara. Di sisi lain, dengan kenaikan ICP, negara juga memperoleh tambahan pendapatan,” ujar Bahlil dalam konferensi pers Perkembangan Terkini Timur Tengah dan Implikasi terhadap Sektor ESDM di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (4/3/2026).

Menurutnya, pemerintah tengah menghitung selisih antara potensi kenaikan beban subsidi energi dengan tambahan penerimaan negara dari sektor migas. Indonesia masih memproduksi sekitar 600 ribu barel minyak per hari sehingga kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan pendapatan negara.

Bahlil menambahkan, Prabowo Subianto telah mengarahkan agar perhitungan dampak dilakukan secara cermat dengan tetap memastikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.

“Arahan Bapak Presiden kepada kami adalah kita harus sangat berhati-hati menghitung semuanya dengan tetap memastikan ketersediaan BBM dalam negeri,” katanya.

Di tengah gejolak pasar energi global, pemerintah memastikan stok energi nasional berada di atas batas minimum ketahanan nasional. Rata-rata cadangan minyak mentah, BBM, dan liquefied petroleum gas (LPG) saat ini tercatat di atas standar minimum sekitar 21 hari.

Diversifikasi sumber impor turut menjadi penopang ketahanan energi. Sekitar 20–25 persen impor minyak mentah Indonesia berasal dari Timur Tengah, sementara sisanya dipasok dari negara lain seperti Amerika Serikat, Angola, dan Brasil.

Untuk mengantisipasi eskalasi konflik, pemerintah menyiapkan skenario pengalihan sebagian impor minyak mentah dari Timur Tengah ke negara lain, khususnya Amerika Serikat, guna memastikan kepastian pasokan.

Selain itu, Bahlil memantau posisi dua kapal milik Pertamina yang berada di kawasan Teluk dekat Selat Hormuz. Keberadaan kapal tersebut menjadi perhatian mengingat kawasan itu merupakan jalur distribusi minyak global yang terdampak ketegangan geopolitik.

Meski demikian, pemerintah memastikan kondisi tersebut tidak akan mengganggu ketahanan energi nasional. Jika skenario terburuk terjadi, Kementerian ESDM telah menyiapkan sumber pasokan alternatif untuk menjaga stabilitas energi dalam negeri.

(Nur Aida Nasution)

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi