Jakarta, Aktual.com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meminta masyarakat terus menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan guna mencegah penularan hantavirus yang sumber infeksinya dari tikus.

“Di samping kebersihan lingkungan, kita harus betul-betul aware (sadar) terkait dengan sumber penularan hantavirus yang infeksinya dari tikus. Artinya, tikus itu jangan sampai berkeliaran dan lain sebagainya, itu kan sangat berkaitan dengan kebersihan lingkungan,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni dalam konferensi pers yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin.

Ia menjelaskan, meski strain virus yang menjangkiti kapal pesiar MV Hondius dan menyebabkan korban berbeda dengan yang ditemukan di Indonesia, masyarakat harus tetap waspada akan bahaya penularan virus, utamanya di daerah banjir.

“Risiko itu ada pada daerah-daerah dengan intensitas banjir yang cukup tinggi. Jadi, itu juga mempengaruhi keberadaan atau terjadinya beberapa kasus yang selama ini tersebar di 23 daerah-daerah tertentu. Jadi, kesehatan lingkungan itu sangat terkait dengan adanya sekresi (penularan virus) dari tikus,” ujar Andi.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak bermain-main ketika terjadi banjir, karena banyak risiko penyakit yang bisa ditularkan, termasuk hantavirus dan leptospirosis dari tikus.

“Jadi, ketika terjadi banjir itu jangan malah main-main banjir begitu, seperti kolam renang raksasa katanya, karena sebenarnya itu berisiko untuk terjadinya beberapa penyakit menular, salah satunya adalah hantavirus tersebut,” paparnya.

Kasus penularan hantavirus bermula dari klaster penyakit pernapasan akut di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar lintas Atlantik dan Afrika. Virus yang teridentifikasi adalah Hanta Pulmonary Syndrome (HPS) dari strain Andes, yang dikenal memiliki tingkat kematian tinggi dan dapat menular melalui paparan rodensia.

Meski demikian Indonesia sejauh ini belum pernah melaporkan kasus HPS dan hanya mencatat infeksi Hantavirus tipe Haemorhaggic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dalam jumlah terbatas sejak 1991.

Kemenkes juga menyatakan di Indonesia belum ada kasus penularan dari tikus ke manusia hingga saat ini.

Artikel ini ditulis oleh:

Eroby Jawi Fahmi