Bandung, aktual.com – Peluncuran buku dan seminar nasional bertajuk “Prabowonomics, Demokrasi dan Tantangan ke Depan” digelar di Aula Barat Institut Teknologi Bandung, Kamis sore, 5 Maret 2026. Kegiatan yang berlangsung hingga menjelang waktu berbuka puasa itu menghadirkan sejumlah akademisi, tokoh politik, serta pejabat pemerintah untuk membahas arah pemikiran ekonomi dan politik yang dikaitkan dengan kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Dalam sambutannya, sang penulis buku Syahganda Nainggolan, menjelaskan bahwa sebagian gagasan yang dituangkannya tersebut lahir dari pengalaman pribadi ketika ia menjalani masa penahanan. Ia mengatakan tulisan tersebut berangkat dari refleksi terhadap sejarah nasionalisme di Indonesia.

Syahganda menjelaskan bahwa dalam buku itu ia menyoroti perubahan pemikiran tokoh-tokoh besar dalam perjalanan waktu. Menurutnya, pengalaman sejarah menunjukkan bahwa gagasan politik bisa mengalami pergeseran seiring perubahan kondisi dan usia tokoh yang bersangkutan.

Ia mengatakan, masyarakat perlu memahami adanya perbedaan pandangan antara masa muda dan masa tua seorang pemimpin. “Jadi bapak-bapak harus tahu, ibu-ibu harus tahu, beda nasionalisme Soekarno-Muda ketika dia menjadi tua,” katanya, di Bandung, Kamis (5/3/2026).

Menurut Syahganda, pergeseran sikap politik itu juga dapat terjadi karena pertimbangan pragmatis dalam menjalankan pemerintahan. Ia menyebut perubahan tersebut sebagai bagian dari dinamika kepemimpinan. “Menjadi semakin pragmatis dan lain-lain,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Syahganda juga menyinggung karakter kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang menurutnya masih memiliki komitmen ideologis yang kuat hingga saat ini. Ia menilai tidak semua orang memahami latar belakang pemikiran tersebut.

“Untuk seorang Prabowo Subianto, alhamdulillah sampai umur 75 tahun, dia ideologinya masih sangat kuat,” kata Syahganda.

Ia juga menilai tantangan pemerintahan saat ini tidak hanya berasal dari kondisi ekonomi domestik, tetapi juga situasi geopolitik global yang semakin kompleks. Karena itu, menurutnya kebijakan ekonomi harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus mempertimbangkan dinamika internasional.

Syahganda mengatakan dirinya pernah menyampaikan langsung kepada Prabowo mengenai pentingnya merespons kondisi masyarakat yang menghadapi tekanan ekonomi. “Saya sudah mengatakan kepada Prabowo, bagaimana mengatasi keinginan rakyat yang sudah kelaparan carry over 10 tahun kemarin,” ujarnya.

Menurut dia, solusi kebijakan dapat berupa berbagai langkah yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat. “Ya baik bentuknya lapangan kerja, atau MBG-nya diperbaiki, atau apa-apa,” kata Syahganda.

Setelah sesi peluncuran buku, acara dilanjutkan dengan dialog nasional bertema “Prabowonomics, Demokrasi dan Arah Republik ke Depan”. Diskusi tersebut dimoderatori oleh Khalid Zabidi dan menghadirkan sejumlah pembicara, termasuk Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, Ketua Umum KSPSI Moh Jumhur Hidayat, Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun, serta Menteri Koperasi Ferry Juliantono.

Dalam diskusi tersebut, filsuf sekaligus akademisi Rocky Gerung turut menyampaikan pandangannya mengenai konsep prabowonomics yang menjadi bahan pembahasan seminar. Ia menilai konsep tersebut perlu dibahas secara terbuka dalam forum akademik agar tidak menjadi gagasan yang tertutup dari kritik.

Rocky mengatakan bahwa kebijakan publik seharusnya selalu terbuka terhadap interupsi dan evaluasi agar tidak berubah menjadi sistem yang monolitik. “Kebijakan harus diinterrupsi, supaya dia tidak jadi monolitik. Kita bicara tentang prabonomics,” ujarnya.

Ia mengaku baru memahami istilah tersebut setelah muncul dalam berbagai percakapan akademik. Menurutnya, istilah prabowonomics memunculkan diskusi baru mengenai arah kebijakan ekonomi pemerintahan.

“Saya tidak pernah tahu apa pikiran Prabowo. Sampai akhirnya, dia sinopsiskan dalam istilah prabonomics. Maka timbul percakapan akademis,” kata Rocky.

Ia menilai penggunaan istilah itu secara otomatis membuka ruang analisis metodologis di kalangan akademisi. “Begitu disebut prabonomics, orang berpikir bahwa ada metodologi di situ, ada ideologi di situ. Jadi apapun, prabonomics sudah jadi genre ekonomics,” ujarnya.

Menurut Rocky, salah satu tugas kalangan intelektual adalah menguji kerangka teori yang melandasi konsep tersebut. Ia menyebut pentingnya menelaah apakah gagasan tersebut memiliki keterkaitan dengan teori ekonomi yang sudah ada.

“Anda bongkar secara metodologi. Apakah prabonomics berinduk pada Keynesian economics? Atau berinduk pada Milton Friedman? Itu tugas intelektual,” kata Rocky.

Ia juga menyinggung bahwa perdebatan akademik mengenai konsep tersebut masih akan terus berlangsung. “Jadi konsekuensi dari ucapan prabonomics, di dalamnya akan ada pertengkaran akademik,” ujarnya.

Rocky mengatakan bahwa forum akademik seperti yang digelar di ITB merupakan tempat yang tepat untuk memulai diskusi tersebut. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tradisi panjang dalam membahas isu politik dan gagasan publik.

Ia menyebut bahwa sejak masa gerakan mahasiswa pada era Orde Baru, ruang-ruang diskusi kampus sering menjadi tempat lahirnya gagasan perubahan politik. “Jadi dari awal, forum ini adalah forum politik. Anda masuk di aula barat, Anda pasti berpolitik,” kata Rocky.

Menurutnya, konsep republik pada dasarnya menuntut adanya ruang percakapan publik yang terbuka. Ia menjelaskan bahwa dalam tradisi pemikiran politik, republik berangkat dari gagasan bahwa urusan publik harus dibicarakan oleh masyarakat.

“Etimologinya kita tahu, res publika. Semua hal tentang publik harus dibicarakan oleh publik,” ujarnya.

Namun Rocky menilai ruang percakapan publik saat ini menghadapi tantangan baru karena komunikasi politik semakin dipengaruhi oleh teknologi digital. Ia menyebut peran buzzer, influencer, dan algoritma dalam membentuk opini publik.

“Sekarang komunikasi politik dikuasai oleh bazer, dikuasai oleh influencer, dikuasai oleh algoritma,” kata Rocky.

Menurutnya, semangat republik seharusnya berakar pada konsolidasi nilai bersama dalam masyarakat. Ia menjelaskan bahwa konsep konsolidasi berasal dari gagasan kebersamaan yang diikat oleh nilai.

“Inti pikiran republik adalah konsolidasi. Konsolidasi dari kata kon dan solidare,” ujarnya.

Rocky menambahkan bahwa kebersamaan tanpa ikatan nilai tidak cukup untuk membangun kehidupan republik yang kuat. “Kon artinya bersama-sama. Solidare artinya diikat. Itu dasar pikiran republik,” katanya.

Ia juga mengaitkan diskusi tersebut dengan dinamika politik global yang menurutnya semakin didominasi pendekatan realis dalam hubungan internasional. Dalam konteks itu, ia menilai konsep prabowonomics dapat menjadi bahan diskusi mengenai arah nilai yang ingin dibangun Indonesia.

“Dunia hari ini diisi oleh kaum realis. Donald Trump realis. Benjamin Netanyahu realis,” kata Rocky.

Ia menilai konsep tersebut perlu diuji secara akademis untuk melihat apakah memiliki landasan teori yang kuat. “Kalau kita ingin buktikan bahwa parabomomics itu bermakna secara akademis, uji dalil-dalilnya,” ujarnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain