Oleh: Ali Syahbana
Jakarta, aktual.com – Lailatul Qadar merupakan satu momen istimewa nan dahsyat dari bulan suci Ramadhan. Ia teramat spesial. Lebih dahsyat dari seribu bulan. Panjat doa terkabulkan. Dosa-dosa terampunkan. Bagi siapapun yang menghidupkan dan memaksimalkan.
Lailatul Qadar dalam bahasa kita berarti malam ketetapan. Pedoman suci, Al-Qur’an Allah turunkan. Rahmat dan keberkahan tercurahkan. Para malaikat ditugaskan. Takdir tahunan makhluk pun ditetapkan.
Diriwayatkan, siapa yang beribadah di malam Lailatul Qadar maka ganjarannya lebih baik dari amalan 1.000 bulan, setara 83 tahun 4 bulan. Boleh jadi, ini menunjukkan betapa dahsyat dan istimewanya malam tersebut. Tidak sekedar berbicara nominal angka.
Lailatul Qadar merupakan malam yang teramat spesial dan istimewa. Bahkan, ada dari ulama yang melakukan perhitungan dalam menentukan malam tersebut, berdasarkan kebiasaan dan pengalaman saat menemukan Lailatul Qadar. Menurutnya, jika awal Ramadhan hari Ahad dan Rabu maka Lailatul Qadar jatuh pada malam 29 Ramadhan. Jika hari Senin maka malam 21 Ramadhan adalah Lailatul Qadar-nya. Jika hari Selasa atau Jum’at maka malam 27 Ramadhan. Jika hari Kamis maka malam 25 Ramadhan. Jika hari Sabtu maka Lailatul Qadar-nya malam 23 ramadhan.
Dilain itu, ada juga yang mengatakan, “Jika awal puasa hari Jum’at maka Lailatul Qadar jatuh dimalam 29 Ramadhan. Jika awal puasa hari Sabtu maka malam 21 Ramadhan. Jika hari Ahad maka malam 27 Ramadhan. Jika hari Senin maka malam 19 Ramadhan. Jika hari Selasa maka malam 25 Ramadhan. Jika hari Rabu maka malam 17 Ramadhan.
Lailatul Qadar laksana misteri yang patut untuk dijajaki dan didapati. Ia tidak tetap atau berubah-ubah dalam tanggal jatuhnya. Dalam sebuah riwayat, dikatakan bahwa terjadinya malam Lailatul Qadar itu pada 10 malam terakhir bulan Ramadan. Dikatakan juga bahwa ia terjadi pada malam-malam ganjil, yaitu 21,23,25,27, dan 29.
Bahkan, Imam Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah sendiri saat membahas keutamaan Lailatul Qadar dalam karya beliau “Fathul Bari Syarh Sahih al-Bukhari” telah menyebutkan sekitar empat puluh enam pendapat ulama terkait masalah ini. Namun pendapat yang paling kuat dari berbagai pendapat yang ada sebagaimana dikatakan oleh beliau adalah Lailatul Qadar itu terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dan waktunya berpindah-pindah dari tahun ke tahun.
Lailatul Qadar merupakan malam yang dahsyat dan penuh keutamaan. Ia laksana putaran akhir garis finish dari rangkaian ibadah Ramadan. Tentunya, akhir putaran ini harus betul-betul lebih dimanfaatkan secara maksimal dan efektif. Dengan meningkatkan intensitas ibadah mendekatkan diri kepada Allah. Menguatkan kembali jaringan koneksi dengan Sang Pencipta yang sempat goyah dan melemah diputaran sebelumnya.
Adalah Baginda Rasulullah saw., sosok teladan bagi umatnya, sebagaimana dalam riwayat, saat memasuki sepuluh terakhir bulan Ramadhan beliau mengencangkan ikat pinggangnya untuk menghidupkan malamnya dengan beribadah, bahkan mengajak keluarganya.
Pesan mulia beliau, juga dalam sebuah riwayat, “maksimalkanlah (beribadah) pada malam Lailatul Qadar, yaitu disepuluh terakhir bulan Ramadhan.” , “siapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan landasan keimanan dan meraih ridha Allah, niscaya akan terampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Semoga kita tergugah dan mendapat anugrah bisa memaksimalkan dan menghidupkan malam-malam penghujung dari bulan Ramadhan. Wallahua’lam .
Artikel ini ditulis oleh:
Rizky Zulkarnain

















