Ilustrasi - Serangan udara Israel ke Beirut Lebanon
Ilustrasi - Serangan udara Israel ke Beirut Lebanon

Jakarta, Aktual.com – Analis intelijen Amerika Serikat (AS) menyebut pemerintahan Iran tetap solid dan bahkan semakin tangguh meski menghadapi serangan militer dari AS dan Israel dalam dua pekan terakhir. Laporan The Washington Post, Selasa (17/3), yang mengutip sumber terkait, menyebut serangan sejak 28 Februari tidak memicu “retakan atau pembelotan” yang signifikan dalam struktur kekuasaan Iran.

“Temuan intelijen menunjukkan tidak ada retakan nyata dalam struktur kekuasaan Iran,” demikian dikutip dari laporan tersebut.

Sumber itu menambahkan, meskipun serangan melemahkan kemampuan militer Iran, kondisi tersebut tidak menyebabkan keruntuhan pemerintahan.

“Alih-alih runtuh, sistem justru semakin mengakar di bawah kendali Korps Garda Revolusi Islam,” ujar sumber tersebut.

Intelijen AS juga memperkirakan pemerintahan Iran akan tetap bertahan dalam waktu dekat, bahkan berpotensi semakin percaya diri dalam menghadapi tekanan eksternal, termasuk dari Presiden AS Donald Trump.

“Iran kemungkinan akan tetap utuh dan bahkan lebih percaya diri karena merasa mampu bertahan,” lanjut laporan tersebut.

Selain itu, sekutu-sekutu AS di kawasan dilaporkan menunjukkan kekhawatiran terhadap konflik berkepanjangan serta potensi serangan balasan Iran yang dapat menyasar infrastruktur sipil.

Ketegangan di kawasan Teluk Persia meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sekitar 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan menggunakan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, serta sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS.

Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam menyatakan telah melancarkan gelombang ke-58 Operasi “True Promise 4” yang menyasar sejumlah kota di Israel, termasuk Tel Aviv dan Yerusalem Barat, serta pangkalan militer AS di kawasan.

“Gelombang ke-58 Operasi ‘True Promise 4’ dilakukan terhadap target di wilayah utara dan tengah wilayah pendudukan,” demikian pernyataan IRGC.

IRGC juga mengklaim telah menyerang sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah, termasuk di Irak, Kuwait, dan Arab Saudi, dengan menggunakan berbagai jenis rudal seperti Khorramshahr, Ghadir, Fattah, dan Kheibar Shekan.

“Iran akan terus merespons agresi dengan kekuatan penuh,” lanjut pernyataan tersebut.

Serangan balasan itu merupakan respons atas operasi militer gabungan AS dan Israel yang dimulai pada 28 Februari, yang menurut otoritas Iran telah menewaskan lebih dari 1.200 orang.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi