Jakarta, Aktual.com – Nama-nama calon direksi Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2026–2030 mulai beredar di ruang publik, tetapi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan hingga saat ini belum menerima pengajuan resmi. Situasi ini muncul menjelang Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang akan menentukan susunan direksi baru bursa.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hasan Fawzi, menegaskan proses pencalonan masih berada pada tahap penjaringan oleh pemegang saham. “Belum ada yang secara resmi masuk ke OJK, yang beredar saat ini baru informasi di media dan belum merupakan pengajuan formal,” ujarnya, Rabu (25/3/2026).

Pengusulan kandidat merupakan kewenangan perusahaan efek sebagai anggota bursa yang sedang menyusun paket calon. OJK akan memproses nama-nama tersebut setelah seluruh tahapan seleksi internal selesai. Hasan menekankan pentingnya kualitas kandidat sebelum diajukan untuk uji kelayakan. “Calon yang masuk ke OJK kami harapkan sudah ditelaah dan diperiksa kecakapan serta kelayakannya,” katanya.

Batas akhir pengajuan paket calon direksi ditetapkan 4 Mei 2026, dengan dasar penilaian aktivitas perusahaan efek selama satu tahun terakhir hingga akhir Maret. Ketentuan ini masih mengacu pada regulasi yang berlaku, karena skema demutualisasi BEI belum memiliki dasar hukum baru.

Perhatian pasar tertuju pada Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, yang disebut masuk dalam kandidat. Ia tidak memberikan konfirmasi langsung dan menekankan keberlanjutan agenda pengembangan bursa, menegaskan fokus pada kualitas pertumbuhan pasar modal di tengah dinamika kepemimpinan.

Sejalan dengan dinamika tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 2,75% ke level 7.302,12 pada perdagangan hari ini, mencerminkan optimisme investor di tengah proses seleksi kepemimpinan BEI yang masih berlangsung.

Formasi calon direksi akan menentukan arah strategi pasar modal Indonesia dalam lima tahun mendatang, dan seleksi yang transparan diharapkan menjaga stabilitas serta daya saing bursa domestik di kancah global.

(Nur Aida Nasution)

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi