Washington, Aktual.com – Antrean panjang hingga 4 jam lebih di bandara-bandara Amerika Serikat (AS) membuat para penumpang frustrasi, saat Administrasi Keamanan Transportasi (TSA) menghadapi kekacauan terburuk dalam sejarah 24 tahun. Semua ini terjadi di tengah shutdown parsial Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) yang sudah berlangsung lebih dari sebulan, dengan staf absen hingga 50 persen.
Pelaksana Tugas Administrator TSA, Ha Nguyen McNeill, menggambarkan situasi ini sebagai “belum pernah terjadi dan tidak dapat diterima.”
Banyak pegawai menghadapi kesulitan ekstrem: tak mampu membayar tagihan, diusir dari rumah, tidur di mobil, bahkan menjual darah demi bertahan hidup. Sejak pertengahan Februari, lebih dari 480 pegawai TSA mengundurkan diri, memperparah antrean di bandara besar di seluruh negeri.
Kekacauan ini memicu serangan politik antar Partai. Pemimpin Minoritas Senat, Chuck Schumer, menuding Partai Republik bertanggung jawab penuh karena sembilan kali memblokir pendanaan TSA. Namun, Presiden Donald Trump tidak tinggal diam.
Dalam unggahannya di Truth Social, Trump menuduh Demokrat sebagai “sayap kiri radikal” yang ingin membuat AS gagal. “Salahkan Partai Demokrat atas kekacauan di bandara. Mereka ingin negara kita berkinerja buruk,” tegasnya.
Masalah bermula dari tuntutan Partai Demokrat untuk mereformasi Immigration and Customs Enforcement (ICE) menyusul penembakan fatal dua warga AS di Minneapolis pada Januari. Partai Republik menolak, membuat pendanaan DHS terhenti sejak 13 Februari dan menimbulkan shutdown parsial.
Trump kini menaikkan tensi. Presiden AS mengancam menurunkan Garda Nasional ke bandara jika shutdown tidak dihentikan.
“Kami akan kerahkan Garda Nasional jika perlu. Kami punya 6.000 agen ICE dan 40.000 orang lain yang membantu, beberapa terpaksa bekerja karena Demokrat tidak membayar mereka,” kata Trump. Ia menegaskan, langkah ini untuk memastikan keamanan transportasi tetap terjaga.
Gedung Putih menyebut shutdown parsial telah merugikan ekonomi AS sekitar 2,5 miliar dolar AS (sekitar Rp42,3 triliun). Bandara dari ujung ke ujung AS dilaporkan mengalami antrean berjam-jam, penerbangan tertunda, dan frustrasi penumpang meningkat drastis.
Negosiasi pendanaan di Kongres juga buntu. Senat gagal meloloskan rancangan undang-undang DHS meski DPR menyetujui, akibat perbedaan pandangan soal regulasi penegakan imigrasi. Akibatnya, fungsi kritis DHS, termasuk TSA, Penjaga Pantai, dan Federal Emergency Management Agency (FEMA), tetap lumpuh.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi

















