Jakarta, Aktual.com – Pengamat politik internasional Pizaro Gozali Idrus menilai Indonesia perlu menyusun exit strategy yang jelas. Dan menunjukkan keberpihakan diplomatik kepada Iran, untuk menghadapi krisis yang terjadi di Selat Hormuz akibat konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Kondisi ini berujung pada terganggunya lalu lintas pelayaran di salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia, yang secara historis menjadi rute transit sekitar 30 % pasokan minyak global. Gangguan tersebut bahkan disebut sebagai salah satu penyebab melonjaknya harga minyak dan meningkatnya ketidakpastian pasar energi internasional.
“Indonesia gak punya banyak pilihan dalam mencapai exit strategy untuk menembus Selat Hormuz,” ujar Pizaro kepada Aktual.com, Minggu (29/03/2026).
Menurut Pizaro, posisi diplomatik Indonesia selama ini dinilai kurang kuat di mata Iran. Jakarta cenderung ragu untuk memperdalam kerja sama energi dengan Teheran karena kekhawatiran terhadap sanksi dari Amerika Serikat. Sementara respons diplomasi terhadap dinamika internal Iran belum menunjukkan hasil signifikan dalam membuka akses pelayaran bagi kapal Indonesia.
Pizaro membandingkan situasi tersebut dengan pengalaman India dan Pakistan yang berhasil menjaga hubungan dengan berbagai pihak sekaligus mendapatkan izin melintasi Selat Hormuz. India, misalnya, membangun hubungan strategis jangka panjang, termasuk pengembangan Pelabuhan Chabahar dengan dukungan tingkat tinggi antara kepala negara, sehingga kapal-kapalnya tetap bisa melintas.
Hal ini menurut Pizaro karena Teheran melihat adanya sinyal diplomatik yang kuat dari New Delhi.
“Jadi Iran masih membutuhkan bukti kalau Indonesia berpihak kepada mereka,” kata Pizaro.
Atasa dasar itu ia menekankan, bahwa masalah akses jalur strategis tersebut perlu ditangani langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Karena menurutnya upaya diplomasi di tingkat menteri belum cukup untuk menghasilkan perubahan signifikan terhadap keputusan Teheran.
Sehingga komunikasi langsung di level tertinggi diperlukan untuk membangun kepercayaan, dan memperkuat posisi Indonesia di tengah ketegangan geopolitik yang semakin tajam.
Krisis Selat Hormuz juga berdampak luas pada perekonomian global, terutama dalam stabilitas pasokan energi dan harga komoditas, sehingga negara-negara importir energi seperti Indonesia perlu memastikan strategi mitigasi yang matang untuk melindungi ketahanan energi nasional.
“Pendekatan seimbang dan komunikasi di level tertinggi adalah kunci utama bagi negara yang ingin mengamankan kepentingannya di jalur perdagangan internasional yang strategis,” pungkasnya.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi

















