BEIRUT – Di Choueifat, selatan Beirut, Minggu (30/3/2026), pemakaman itu berjalan dalam diam yang berat. Hujan turun tipis, tanah basah, dan tiga peti diturunkan satu per satu. Mereka bukan tentara. Mereka membawa kamera, bukan senjata. Mereka adalah pewarta yang menjadi sasaran target penjajah Zionis Israel.
Ali Shoeib, Fatiman Ftouni, dan Mohammad Ftouni tewas sehari sebelumnya di Jezzine. Kendaraan yang mereka tumpangi dihantam serangan udara Israel saat mereka meliput perang.
Ratusan orang datang. Sebagian menangis, sebagian lain berdiri kaku. Di tengah duka itu, kalimat sederhana terdengar dari kerabat mereka.
“Fatima dan Ali adalah pahlawan,” kata Qassem.
Tidak ada jeda panjang antara liputan dan kematian. Serangan itu langsung memutus segalanya. Tanpa peringatan, tanpa ruang untuk menghindar.
Militer Israel mengakui telah menargetkan Ali Shoeib. Juru warta itu dituduh sebagai ‘teroris’ dan dituduh sebagai agen intelijen Hizbullah, meski tanpa bukti yang dipaparkan. Untuk dua korban lainnya, tidak ada penjelasan resmi.
Di lapangan, para jurnalis memahami risiko itu. Namun yang kini berubah adalah batasnya. Mereka tidak lagi hanya berada di dekat bahaya. Lebih dari itu, mereka mulai menjadi bagian dari target para penjajah Israel itu sendiri.
Obaida Hitto, jurnalis Al Jazeera yang melaporkan dari wilayah selatan, menggambarkan suasana yang tidak hanya dipenuhi duka, tetapi juga ketegangan yang terus meningkat.
Kematian tiga jurnalis itu terjadi hampir bersamaan dengan keputusan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk memperluas invasi ke Lebanon selatan.
Dari Komando Utara, Netanyahu menyampaikan arah baru operasi militern Zionis untuk emperluas zona penyangga dan mendorong pasukan mendekati Sungai Litani.
“Saya baru saja menginstruksikan untuk memperluas lebih lanjut zona penyangga keamanan yang ada. Kami bertekad untuk mengubah secara fundamental situasi di utara [Israel],” katanya.
Pasukan Israel bergerak ke beberapa titik. Di front timur, mereka dilaporkan telah mencapai area yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari Sungai Litani. Pergerakan ini disebut sebagai perubahan strategis besar, yang berarti pertempuran akan semakin dekat, semakin intens.
Dan semakin berbahaya bagi siapa pun yang berada di sana, termasuk jurnalis.
Serangan terhadap pekerja media di Lebanon bukan peristiwa tunggal. Ia bagian dari pola yang mulai terlihat sejak konflik dengan Hizbullah kembali memanas.
Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) mencatat terdapat 11 jurnalis dan pekerja media Lebanon telah tewas akibat serangan Israel sejak 2023.
Angka itu belum termasuk Gaza, wilayah lain yang menjadi saksi betapa mahalnya harga sebuah laporan. Di sana, 210 jurnalis dan pekerja media Palestina dilaporkan tewas sejak Oktober 2023 hingga gencatan senjata 2025 yang terus dilanggar.
Kecaman mulai datang dari luar kawasan. Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot menegaskan bahwa jurnalis tidak boleh dijadikan sasaran, apa pun posisi mereka dalam konflik.
“Jika memang terkonfirmasi bahwa para jurnalis yang dimaksud sengaja menjadi sasaran tentara Israel, maka ini sangat serius dan merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional,” katanya.
Namun di lapangan, kecaman sering kali tidak cukup cepat untuk menghentikan serangan berikutnya.
Di seluruh Lebanon selatan, dampak perang terus meluas. Kementerian Kesehatan mencatat sedikitnya 1.238 orang tewas sejak konflik kembali meletus awal Maret. Di antaranya 124 anak-anak, dan ribuan lainnya terluka.
Dalam dua hari terakhir saja, 49 orang tewas—termasuk tiga jurnalis yang dimakamkan di Choueifat. Lebih dari 1,2 juta orang kini mengungsi, meninggalkan rumah yang mungkin tidak akan mereka lihat lagi.
Di pemakaman itu, tanah ditutup perlahan. Tidak ada pidato panjang. Hanya tatapan yang tertahan, dan kesadaran bahwa perang telah berubah bentuk. Bukan hanya bangunan yang runtuh. Bukan hanya warga sipil yang menjadi korban.
Di Lebanon selatan, kamera juga kini diburu, seperti halnya di Gaza, Palestina.
Artikel ini ditulis oleh:
Andry Haryanto

















