Jakarta, aktual.com – Kementerian Pekerjaan Umum mencatat adanya peningkatan layanan infrastruktur dan aspek keselamatan selama periode arus mudik dan arus balik Lebaran 2026. Menteri PU Dody Hanggodo menjelaskan, pemerintah memastikan kesiapan infrastruktur dengan menjaga kondisi jalan nasional tetap mantap serta menyiagakan posko dan tim tanggap darurat.
“Periode arus mudik dan arus balik Lebaran 2026 menjadi momentum penting, tidak hanya dalam pelaksanaan, tetapi juga sebagai bahan evaluasi dan pembelajaran untuk meningkatkan kualitas layanan ke depan,” ujar Menteri Dody, Jumat (3/4).
Dody menjelaskan, identifikasi titik rawan bencana dilakukan dengan dukungan Disaster Relief Unit (DRU) serta penguatan koordinasi lintas sektor bersama Kementerian Perhubungan, Korlantas Polri, BMKG, dan pemangku kepentingan lainnya. Secara data, panjang jaringan jalan nasional mencapai 47.603,39 kilometer dengan tingkat kemantapan sebesar 93,50 persen.
Selama periode mudik, seluruh ruas tersebut dipantau secara intensif untuk memastikan kelancaran arus lalu lintas. Sebanyak 546 posko mudik juga disiagakan di berbagai wilayah guna mengantisipasi kondisi darurat, mulai dari bencana, kemacetan hingga kecelakaan.
Pada sektor jalan tol, total ruas operasional tercatat sepanjang 3.115,98 kilometer yang mencakup 76 ruas tol. Untuk mendukung lonjakan kendaraan saat Lebaran, pemerintah juga mengoperasikan 10 ruas tol fungsional sepanjang 291,13 kilometer.
Dody mengatakan, volume kendaraan yang keluar dari Jakarta mencapai 3,25 juta unit atau meningkat 18,43 persen dibandingkan kondisi normal. Kebijakan diskon tarif tol sebesar 30 persen disebut memberikan manfaat ekonomi sekitar Rp38,69 miliar bagi 1,22 juta kendaraan, sekaligus membantu distribusi arus lalu lintas agar tidak terpusat di waktu tertentu.
“Kalau saya melihat sepintas, memang kondisinya lebih baik dibandingkan beberapa tahun lalu. Peningkatan ini antara lain karena kontribusi dari BUJT yang telah banyak berinvestasi, misalnya dalam pemasangan CCTV dan radar,” kata Dody.
Dengan teknologi tersebut, lanjut Dody, arus pergerakan kendaraan dapat terdeteksi dengan lebih mudah. Secara keseluruhan kondisi lalu lintas masih cukup baik dan terkendali, meskipun ada beberapa titik yang perlu dibenahi.
Ia juga menyoroti pemanfaatan teknologi oleh badan usaha jalan tol, termasuk Jasa Marga, dalam memantau kondisi lalu lintas secara real time.
“Saya juga mengapresiasi langkah Jasa Marga dalam pemanfaatan teknologi, namun agar tidak bergantung pada satu penyedia layanan saja,” kata Dody.
Menurut Dody, perlu adanya cadangan provider agar sistem pemantauan tetap berjalan optimal. Ke depan, diharapkan sistem ini dapat terintegrasi dengan BUJT lainnya sehingga seluruh ruas tol dapat dimonitor secara bersamaan dan pengelolaannya menjadi lebih baik.
Dari sisi keselamatan, tingkat fatalitas kecelakaan berhasil ditekan menjadi 5 persen dari sebelumnya 8 persen. Sementara itu, waktu respons penanganan darurat tercatat rata-rata 5 hingga 8,5 menit, lebih cepat dibandingkan standar pelayanan minimal yang ditetapkan.
Meski terjadi peningkatan kinerja, Kementerian PU masih mencatat sejumlah titik yang perlu mendapat perhatian, terutama kemacetan di beberapa ruas jalan serta keterbatasan kapasitas rest area, khususnya di KM 57 dan KM 62. “Ke depan hal ini akan terus kami dorong agar pelayanan semakin optimal,” tegas Dody.
Sebagai tindak lanjut, Kementerian PU akan melakukan berbagai langkah perbaikan. Di antaranya pengendalian pasar tumpah, pengaturan kendaraan angkutan barang, penambahan buffer zone di pelabuhan, serta peningkatan kapasitas simpang dan akses jalan guna mendukung kelancaran arus mudik pada periode berikutnya.
Artikel ini ditulis oleh:
Rizky Zulkarnain

















