Rudal balistik darat ke darat dengan jangkauan 2.000 km bernama Khaibar dipamerkan di Tehran, Iran, Kamis (25/3/2023). /ANTARA FOTO/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS/foc.
Rudal balistik darat ke darat dengan jangkauan 2.000 km bernama Khaibar dipamerkan di Tehran, Iran, Kamis (25/3/2023). /ANTARA FOTO/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS/foc.

Jakarta, Aktual.com – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah melancarkan serangan rudal terhadap kapal induk milik Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln, di tengah meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Media Iran melaporkan IRGC menembakkan sedikitnya empat rudal balistik jenis Ghadr ke arah kapal induk tersebut. Selain itu, serangan juga disebut menyasar lokasi pertemuan teknisi penerbangan dan pilot militer AS di dekat pangkalan di Uni Emirat Arab.

IRGC juga mengklaim sistem pertahanan udaranya berhasil menembak jatuh sebuah jet tempur “musuh” di wilayah Teluk Persia, tepatnya di antara Pulau Qeshm dan Hengam. Namun, hingga kini belum ada verifikasi independen atas klaim tersebut.

Serangan ini disebut sebagai bagian dari respons Iran atas operasi militer gabungan AS dan Israel yang diluncurkan pada 28 Februari lalu. Dalam serangan awal tersebut, Iran mengklaim mengalami kerugian besar, termasuk korban jiwa dari kalangan militer dan sipil.

Selain itu, IRGC juga menyatakan telah menembak jatuh jet tempur canggih F-35 milik AS di wilayah tengah Iran. Media lokal menyebut pesawat tersebut hancur, sementara nasib pilot belum diketahui. Klaim ini menjadi yang kedua sejak konflik meningkat, setelah sebelumnya pernyataan serupa juga sempat dibantah oleh pihak AS.

Di sisi lain, otoritas militer AS belum memberikan tanggapan resmi terkait klaim terbaru Iran tersebut. Sebelumnya, Komando Pusat AS (CENTCOM) sempat membantah klaim serangan Iran terhadap USS Abraham Lincoln dan menyebut rudal yang diluncurkan tidak mengenai sasaran.

Situasi di Timur Tengah terus memanas sejak serangan udara gabungan AS dan Israel terhadap Iran, yang kemudian dibalas dengan serangan drone dan rudal ke berbagai target, termasuk fasilitas militer AS di kawasan.

Eskalasi konflik ini tidak hanya memicu ketegangan geopolitik, tetapi juga berdampak pada stabilitas kawasan dan pasar global, terutama sektor energi dan transportasi udara.

 

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi