Di Gaza, Paskah tidak lagi hadir sebagai perayaan, namun datang seperti hari-hari lain dalam perang. Sunyi, terbatas, dan dipenuhi kehilangan keluarga yang menjadi korban pembantaian zionis Israel.
Bagi komunitas Kristen yang tersisa, jumlahnya kini bahkan kurang dari seribu orang, hari raya kebangkitan itu berlangsung di tengah pengungsian, kekurangan, dan bayang-bayang kematian yang belum juga menjauh.
Di ruang-ruang sempit, di gereja yang tersisa, dan di rumah-rumah yang tak lagi utuh, doa tetap dipanjatkan. Bukan dengan perayaan, melainkan dengan kesadaran bahwa bertahan hidup sudah menjadi makna tersendiri.
Di antara mereka, Maha menjalani Paskah dengan cara yang berbeda. Tidak ada perjamuan, tidak ada keluarga besar, hanya seorang bayi yang terus ia jaga di tengah kehancuran.
“Aku memaksakan diri untuk bangun dan bermain dengannya,” katanya dikutip dari Aljazeera, Senin (6/4/2026), sambil menatap mata Hamza dan tertawa kecil bersamanya.
“Aku tak sanggup melihatnya sedih. Cukup sudah apa yang telah ia alami, meskipun ia belum memahaminya,” tambahnya.
Segalanya telah hilang dari hidup Maha. Rumah, keluarga, masa lalu, semua lenyap dalam perang genosida yang berkepanjangan. Namun satu hal masih tersisa, dan itu menjadi alasan ia terus bertahan.
“Tapi anak ini tetap ada,” katanya, sambil membawakan botol susu untuk putra angkatnya. “Hamza telah memberi saya alasan untuk hidup.”
Di Gaza, harapan tidak lagi berbentuk rencana besar. Ia hadir dalam keinginan sederhana, yaitu melihat seorang anak tumbuh.
“Semoga Tuhan memperpanjang umurku agar aku bisa menyaksikan masa kecilnya dan kebahagiaannya.”
Di tempat lain, Fouad Ayad berjalan menyusuri Kota Gaza. Ia mencari sesuatu yang dulu sangat biasa dalam perayaan Paskah, telur. Namun kini, benda sederhana itu menjadi langka.
“Kami menghias telur untuk anak-anak kecil, dan terkadang anak-anak Muslim kecil akan mengunjungi kami untuk mendapatkan telur berwarna-warni,” katanya.
Tradisi itu kini nyaris hilang. Tidak ada telur, tidak ada makan siang bersama keluarga, tidak ada keramaian seperti dulu.
“Dulu kami biasa makan siang bersama, dan kami mewarnai telur. Itu adalah hari libur yang indah dan penuh sukacita,” katanya.
“Kami biasa mengunjungi para lansia dan mendoakan mereka serta mengunjungi beberapa tetangga Muslim.”
Yang tersisa hanyalah ingatan. Gereja tempat ia biasa beribadah pun tak luput dari serangan. Di sana, ia kehilangan kerabat. Lebih dari 20 orang Kristen tewas dalam satu serangan, dan tiga di antaranya adalah keluarganya sendiri.
Namun, meski jumlah jemaat semakin berkurang, ibadah tetap berlangsung.
“Meskipun kami minoritas kecil, kami akan terus berdoa di gereja kami,” tambahnya.
“Kami hanya melaksanakan salat, menolak untuk merayakan karena para martir kami,” katanya.
“Tidak peduli apa agenda politik atau agama Anda, kita semua warga Palestina menjadi sasaran pendudukan.”
Elias al-Jelda juga menjalani Paskah tanpa rumah. Ia mengungsi bersama keluarganya setelah tempat tinggalnya hancur.
“Saya mencari perlindungan di Gereja Keluarga Kudus selama genosida, dan sejak gencatan senjata, saya menyewa sebuah apartemen di lingkungan Sabra,” katanya.
Ia memilih tetap tinggal di Gaza utara, meski risiko terus mengintai.
“Saya kehilangan teman, tetangga, dan kerabat, banyak di antara mereka terbunuh saat mencoba tetap dekat dengan rumah dan keyakinan mereka,” kata Elias.
Baginya, Paskah dulu adalah waktu kebahagiaan. Keluarga berkumpul, makanan tersaji, tradisi dijalankan. Kini, semua itu hanya tersisa sebagai kenangan.
“Adat istiadat tradisional tidak lengkap, sama sekali tidak ada telur di seluruh Strip. Bagi anak-anak, tidak ada tempat untuk bersenang-senang, tidak ada taman hiburan, tidak ada taman bermain, tidak ada kebun, dan tidak ada restoran dengan harga terjangkau,” keluhnya.
Amal al-Masri, yang telah mengungsi berkali-kali, merasakan hal yang sama. Selama dua tahun terakhir, hari-hari besar berlalu tanpa perayaan.
“Selama dua tahun di selatan, tidak ada hari libur sama sekali,” katanya. “Bahkan pada hari Natal, tidak ada perayaan apa pun. Kami bahkan tidak punya kursi dan harus duduk di atas kasur saat berdoa.”
Ia mengenang masa lalu, ketika keluarga saling mengunjungi dan merayakan bersama. Kini, bahkan tradisi paling sederhana pun sulit dilakukan.
“Saya mencari telur di mana-mana, tetapi tidak menemukan satu pun di seluruh Strip,” katanya.
Artikel ini ditulis oleh:
Andry Haryanto

















