Jakarta, aktual.com – Wakil Presiden Iran Mohammad Reza Aref menilai bahwa Gedung Putih tidak lagi menjalankan kebijakan luar negeri secara independen, melainkan cenderung berpihak dan bertindak layaknya perpanjangan kepentingan Israel.

Pernyataan tersebut disampaikan Aref melalui akun media sosial X pada Selasa (14/4), sehari setelah Benjamin Netanyahu menyebut bahwa Wakil Presiden Amerika Serikat J. D. Vance rutin memberikan laporan kepadanya usai kunjungan dari Islamabad.

“Untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang pejabat senior pemerintah memberikan ‘briefing harian’ kepada kepala negara lain!” tulis Aref, dilansir media Iran, Press TV, Rabu (15/4/2026).

Aref menilai fenomena tersebut sebagai bentuk persoalan serius dalam tata kelola hubungan internasional.

“Masalahnya bukan kami; ini masalah penghinaan struktural. Apakah rakyat Amerika menyadari bahwa Gedung Putih secara efektif telah berubah menjadi ‘cabang pelapor’ untuk rezim lain?” cetusnya.

Sebelumnya, Netanyahu dalam rapat kabinet pada 13 April mengungkapkan bahwa dirinya menerima pembaruan informasi secara rutin dari pihak AS terkait negosiasi dengan Iran.

Pernyataan itu memicu reaksi luas di berbagai kalangan politik, dengan munculnya anggapan bahwa Israel memiliki pengaruh signifikan dalam dinamika tersebut, terutama di tengah proses negosiasi antara AS dan Iran.

Adapun perundingan antara Iran dan Amerika Serikat yang berlangsung di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan setelah berlangsung selama 21 jam. Dalam pernyataannya, J.D. Vance mengonfirmasi bahwa negosiasi tersebut tidak menghasilkan titik temu.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain