Jakarta, Aktual.com – BSI mencatat pertumbuhan tabungan tertinggi di industri perbankan nasional pada Triwulan I 2026.
Kinerja tersebut ditopang tingginya minat masyarakat terhadap Tabungan Haji yang mendorong peningkatan jumlah nasabah secara signifikan.
PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk atau Bank Syariah Indonesia melaporkan jumlah nasabah Tabungan Haji telah menembus 7,25 juta.
Dari total tersebut, sekitar 1,2 juta nasabah berasal dari kalangan generasi muda atau Millennial dan Gen-Z.
Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo mengatakan tabungan kini menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan perseroan.
“Tabungan saat ini menjadi engine growth BSI termasuk dari Tabungan Haji,” kata Anggoro, di Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Menurut dia, BSI saat ini fokus memperkuat pertumbuhan Tabungan Haji, Payroll, dan Tabungan Bisnis. Antusiasme masyarakat untuk berhaji juga terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Data BSI mencatat jumlah pendaftar haji nasional naik dari 286,4 ribu pada 2023 menjadi 422,3 ribu pada 2025.
BSI turut mendominasi pangsa pendaftaran haji nasional. Market share pendaftaran haji melalui BSI meningkat dari 49,5 persen pada 2023 menjadi 53,6 persen pada 2025. Dari total 422,3 ribu pendaftar haji pada 2025, sebanyak 226,4 ribu di antaranya mendaftar melalui BSI.
Dominasi tersebut juga terlihat pada fase keberangkatan jemaah. Pada 2026, sebanyak 83,5 persen dari total kuota keberangkatan haji berasal dari jemaah yang mendaftar lewat BSI.
Perseroan menyebut peningkatan jumlah pendaftar haji didukung kemudahan pembukaan rekening melalui platform BYOND by BSI serta berbagai program kampanye haji yang dilakukan secara nasional.
Sejak merger pada 1 Februari 2021, jumlah nasabah BSI bertambah 9,26 juta. Sementara pada tiga bulan pertama 2026, jumlah nasabah meningkat sekitar 500 ribu menjadi 23,7 juta nasabah.
Kenaikan jumlah nasabah turut mendorong pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 18 persen secara tahunan atau year on year (YoY) menjadi Rp376,8 triliun pada Triwulan I 2026. Pertumbuhan DPK terutama berasal dari dana murah atau CASA.
Giro tumbuh 24,17 persen YoY menjadi Rp71,7 triliun, sedangkan tabungan meningkat 20,18 persen YoY menjadi Rp164,5 triliun. Secara keseluruhan, total CASA tumbuh 21,36 persen YoY menjadi Rp236,2 triliun.
Pertumbuhan dana murah tersebut ikut menopang kenaikan total aset BSI menjadi Rp460,1 triliun per Maret 2026. Pencapaian itu mengantarkan BSI masuk jajaran lima besar bank di Indonesia setelah resmi menjadi bank persero pada 23 Januari 2026.
BSI juga menilai status dual licence sebagai bank syariah dan bank emas memberi dampak terhadap peningkatan basis nasabah. Perseroan mencatat nasabah non-Muslim kini mencapai 12 persen dari total nasabah.
Direktur Finance and Strategy BSI, Ade Cahyo Nugroho mengatakan dual licence turut mendorong pertumbuhan pendapatan berbasis komisi atau fee based income.
“Keunikan dual licence menghasilkan kinerja BSI yang sehat dan profit sustain,” ujar Cahyo.
Pada Triwulan I 2026, BSI membukukan laba bersih Rp2,2 triliun atau tumbuh 17,1 persen YoY. Perseroan juga mencatat fee based income mencapai Rp2,09 triliun atau naik 22,98 persen YoY.
Kontributor terbesar fee based income berasal dari bisnis emas dengan porsi 33,69 persen atau senilai Rp705 miliar, tumbuh 125 persen YoY. Selanjutnya disusul bisnis treasury sebesar 21,67 persen dan layanan e-channel sebesar 17,46 persen.
Dari lini bisnis emas, pembiayaan gadai emas tumbuh 58,3 persen YoY, sedangkan layanan E-mas melonjak lebih dari 2.700 persen. Di sisi pembiayaan, BSI menyalurkan pembiayaan sebesar Rp329 triliun atau tumbuh 14,39 persen YoY dengan fokus utama pada segmen konsumer.
Dari total pembiayaan tersebut, sekitar 72,37 persen disalurkan ke segmen konsumer dan ritel, sementara sisanya 27,63 persen ke segmen wholesale. Kualitas pembiayaan juga tetap terjaga dengan rasio Non-Performing Financing (NPF) gross berada di level 1,8 persen, membaik dibanding periode sebelumnya sebesar 1,88 persen. Adapun NPF nett tercatat sekitar 0,38 persen.
Peningkatan dana murah ikut menurunkan biaya dana atau cost of fund menjadi 2,12 persen, sementara biaya pencadangan atau CKPN terjaga di level 0,73 persen.
Kondisi tersebut mendukung rasio profitabilitas perseroan dengan Return on Asset (ROA) sebesar 2,53 persen dan Return on Equity (ROE) sebesar 19,36 persen.
Sementara itu, Direktur Sales and Distribution BSI, Anton Sukarna menyebut BSI juga mendukung sejumlah program pemerintah, termasuk program MBG, penyaluran KDMP, dan Kredit Usaha Rakyat (KUR).
BSI menyalurkan dukungan MBG sebesar Rp198 miliar kepada 211 dapur MBG. Perseroan juga menyalurkan KUR kepada 17.732 nasabah dan mendukung lebih dari 80 ribu koperasi melalui program KDMP.
Pada sektor perumahan, BSI menyalurkan FLPP kepada 894 nasabah selama kuartal pertama 2026. Adapun total pembiayaan rumah subsidi yang telah disalurkan mencapai Rp5,7 triliun. Selain itu, BSI turut berpartisipasi dalam Pembiayaan Program Perumahan untuk pelaku UMKM.
Laporan: Achmat
Artikel ini ditulis oleh:
Eroby Jawi Fahmi















