Jakarta, Aktual.com – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan sektor pertanian tetap menjadi bantalan ekonomi desa di tengah penguatan dolar Amerika Serikat (AS).
Dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (19/5/2026), Amran menegaskan bahwa penguatan dolar tidak otomatis berdampak negatif terhadap masyarakat pedesaan karena struktur ekonomi desa ditopang sektor riil, terutama pertanian.
“Penguatan dolar tidak otomatis mengancam kehidupan masyarakat desa,” ujarnya.
Menurut dia, meskipun terdapat dampak terhadap komoditas impor seperti kedelai dan bawang putih, secara umum kondisi pertanian nasional tetap kuat karena sebagian besar kebutuhan pangan dipenuhi dari produksi dalam negeri.
Ia juga menyoroti peran kebijakan subsidi pemerintah, seperti bahan bakar minyak (BBM) dan pupuk, yang dinilai membantu menjaga stabilitas biaya produksi serta daya beli masyarakat desa.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, nilai ekspor sektor pertanian sepanjang 2025 mencapai Rp756,59 triliun atau meningkat sekitar Rp166 triliun, sementara impor turun sekitar Rp41 triliun.
Amran menilai capaian tersebut menunjukkan sektor pertanian menjadi salah satu penopang utama ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global. Ia juga menekankan bahwa kebutuhan dasar masyarakat Indonesia sebagian besar berasal dari desa, mulai dari beras, telur, ayam, hingga komoditas hortikultura.
Selain itu, kondisi ketahanan pangan Indonesia saat ini dinilai jauh lebih baik dibandingkan krisis 1997–1998. Saat itu, cadangan beras pemerintah hanya sekitar 893 ribu ton, sedangkan saat ini telah melampaui 5 juta ton dengan produksi nasional yang surplus.
Lebih lanjut, pemerintah mencatat dari 11 komoditas pangan strategis, sebanyak delapan komoditas telah mencapai swasembada atau tidak lagi memerlukan impor reguler, di antaranya beras, jagung, bawang merah, cabai, daging ayam ras, telur ayam ras, dan gula konsumsi.
Meski demikian, pemerintah tetap mendorong percepatan swasembada untuk komoditas yang masih bergantung pada impor seperti bawang putih dan kedelai melalui perluasan areal tanam, penguatan benih, serta kemitraan dengan industri pangan.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi

















