Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf (kiri) berdialog dengan petugas haji yang berjaga di kompleks Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, Rabu (20/5/2026) waktu setempat. ANTARA/Citro Atmoko
Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf (kiri) berdialog dengan petugas haji yang berjaga di kompleks Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, Rabu (20/5/2026) waktu setempat. ANTARA/Citro Atmoko

Jakarta, Aktual.com – Ketua Komisi VIII DPR RI Marwan Dasopang mengingatkan pemerintah untuk mengantisipasi secara serius berbagai tantangan menjelang fase Armuzna yang menjadi puncak pelaksanaan ibadah haji. Ia menegaskan, fase perjalanan jemaah dari Arafah, Muzdalifah hingga Mina merupakan titik paling krusial dalam penyelenggaraan haji.

“Sebentar lagi kita akan memasuki perjalanan ibadah haji menuju Armuzna. Menjelang Armuzna inilah yang perlu hati-hati, karena tantangannya jauh lebih berat dibanding fase sebelumnya,” kata Marwan di Mekkah, Arab Saudi, Sabtu (23/5/2026).

Menurut Marwan, sejumlah persoalan pada fase Armuzna memang berada di luar kendali pemerintah Indonesia karena berkaitan dengan otoritas dan sistem layanan di Arab Saudi. Namun demikian, pemerintah tetap dituntut menyiapkan langkah antisipasi dan alternatif agar pelayanan kepada jemaah tetap optimal.

Ia menyoroti ketersediaan makanan cepat saji sebagai kebutuhan krusial. Marwan menekankan distribusi konsumsi harus dipastikan sudah diterima jemaah sebelum keberangkatan menuju Arafah, mengingat keterbatasan akses selama fase Armuzna.

“Kalau makanan cepat saji tidak tersedia, itu akan menjadi problem serius. Sebab pada fase Armuzna, distribusi makanan dari dapur umum sudah tidak bisa berjalan normal,” ujarnya.

Politisi PKB ini mengingatkan agar makanan sudah diterima jemaah paling lambat pada tanggal 6 sore, sehingga jemaah memiliki persediaan saat bergerak menuju Armuzna pada 7 dan 8 Zulhijah.

Selain konsumsi, ia juga menyoroti kesiapan transportasi bus. Menurutnya, gangguan transportasi dapat berdampak berantai terhadap layanan lain, termasuk distribusi makanan dan penempatan jemaah di tenda.

“Kalau bus bermasalah, dampaknya akan ke mana-mana. Bisa mengganggu distribusi konsumsi, penempatan tenda, sampai memperlambat mobilitas jemaah,” katanya.

Marwan juga mengingatkan tingginya risiko kelelahan jemaah saat pelaksanaan lempar jumrah di Jamarat. Ia menyebut fase tersebut sebagai periode dengan tingkat risiko kesehatan tertinggi, termasuk potensi peningkatan angka kematian.

“Jemaah biasanya sudah dalam kondisi sangat lelah ketika dari Mina menuju Jamarat lalu kembali lagi ke Mina. Ini harus benar-benar diantisipasi,” tuturnya.

Ia mengaku mulai melihat tanda-tanda kekurangsiapan, khususnya terkait penyediaan makanan cepat saji yang disebut baru disiapkan satu kali pada H-2 Armuzna, sementara keberangkatan jemaah berlangsung dalam beberapa gelombang.

Meski demikian, Marwan tetap mengapresiasi penyelenggaraan haji tahun ini yang dinilai lebih baik dibanding tahun sebelumnya, namun mengingatkan agar pemerintah tidak lengah menghadapi fase puncak.

Sementara itu, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Dahnil Anzar Simanjuntak menyatakan pemerintah telah memperkuat berbagai skenario mitigasi menjelang puncak haji. Ia menegaskan kesiapan layanan terus dimatangkan agar jemaah dapat beribadah dengan aman dan nyaman.

“Ini tinggal dua hari lagi masa puncak haji atau Armuzna. Tentu kami sudah mempersiapkan dengan maksimal upaya-upaya antisipasi dan mitigasi beberapa masalah yang bisa muncul,” ujarnya di Makkah, Jumat (22/5/2026).

Menurut Dahnil, salah satu fokus utama adalah penertiban tenda jemaah berdasarkan kloter dan asal daerah, bahkan hingga berbasis nama. Pemerintah juga menegaskan seluruh pihak, termasuk KBIHU, harus mengikuti arahan resmi demi menjaga ketertiban.

“Kalau ada KBIHU atau oknum yang bandel, kami akan cabut izinnya. Kami tidak mau jemaah dirugikan,” tegasnya.

Ia menambahkan, penyelenggaraan haji tahun ini menjadi momentum untuk memperkuat pelayanan kepada jemaah, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar layanan haji berorientasi pada kebutuhan umat.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi