Umat Islam memadati Jabal Rahmah jelang wukuf di Arafah, Makkah, Arab Saudi, Sabtu (15/6/2024). Jutaan jamaah haji dari berbagai negara berkumpul di Arafah untuk melaksanakan wukuf yang merupakan rukun haji pada prosesi puncak ibadah haji 1445 H. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/wpa/pri.

Jakarta, aktual.com – Bulan Dzulhijjah tidak hanya identik dengan pelaksanaan ibadah haji, tetapi juga menyimpan hari-hari yang memiliki nilai spiritual dan sejarah besar dalam Islam. Di antara hari-hari tersebut adalah 8 Dzulhijjah yang dikenal sebagai hari Tarwiyah dan 9 Dzulhijjah yang disebut hari Arafah.

Pada dua hari istimewa itu, dianjurkan umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji untuk melaksanakan puasa sunnah sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT.

Di hari Tarwiyah dan Arafah, jutaan jamaah haji dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Tanah Suci Makkah. Mereka melebur tanpa memandang status sosial, bangsa, maupun latar belakang, seraya menunjukkan ketundukan total sebagai hamba Allah SWT.

Sejarah Penamaan Hari Tarwiyah

Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam karya monumentalnya menjelaskan bahwa kata Tarwiyah memiliki makna berpikir, merenung, dan mempertimbangkan sesuatu yang masih dipenuhi keraguan.

Dalam Tafsîr Mafâtîhul Ghaib, ia mengutip sejumlah pendapat ulama mengenai asal-usul penamaan hari Tarwiyah. Salah satunya berkaitan dengan kisah Nabi Adam AS yang merenungkan pahala pembangunan Ka’bah, serta kisah Nabi Ibrahim AS yang memikirkan apakah mimpi menyembelih putranya berasal dari Allah SWT atau godaan setan.

Selain itu, disebut pula bahwa masyarakat Makkah pada masa lalu menggunakan hari Tarwiyah untuk mempersiapkan doa-doa dan bekal menuju Arafah.

Pandangan lain disampaikan Syekh Nidhamuddin an-Naisaburi dalam Tafsîr an-Naisabûri. Ia menjelaskan bahwa hari Tarwiyah merupakan hari persiapan logistik bagi jamaah haji, khususnya penyediaan air untuk perjalanan menuju Mina dan Arafah di tengah kondisi padang pasir yang tandus.

Secara filosofis, kondisi itu menggambarkan manusia yang haus akan rahmat dan ampunan Allah SWT.

Sejarah Penamaan Hari Arafah

Adapun hari kesembilan Dzulhijjah dikenal sebagai hari Arafah. Para ulama memiliki sejumlah penafsiran mengenai asal-usul nama tersebut.

Sebagian ulama menyebut Arafah berasal dari kata i’tiraf yang bermakna pengetahuan atau pengakuan. Pada hari itu, manusia mengakui kebesaran dan keagungan Allah SWT sebagai satu-satunya Dzat yang berhak disembah.

Pendapat lain menyebut kata Arafah berasal dari kata arafa yang bermakna harum. Makna ini menggambarkan para jamaah haji yang bertobat dan membersihkan diri dari dosa sehingga kembali suci di hadapan Allah SWT.

Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman:

يُدْخِلُهُمُ الْجَنَّةَ عَرَّفَها لَهُمْ (محمد: 6)

Artinya: “Dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenankan-Nya kepada mereka.” (QS. Muhammad: 6).

Imam Fakhruddin Ar-Razi menjelaskan bahwa para pendosa yang bertobat di Padang Arafah sejatinya telah dibersihkan dari dosa-dosa mereka sehingga kembali “harum” secara spiritual.

Dalam penjelasannya, Ar-Razi juga memaparkan delapan alasan penamaan hari Arafah, di antaranya:

  • Pertemuan kembali Nabi Adam AS dan Sayyidah Hawa setelah diturunkan ke bumi.
  • Nabi Adam AS mengenal tata cara haji dari Malaikat Jibril.
  • Nabi Ibrahim AS memahami kebenaran mimpinya untuk menyembelih Nabi Ismail AS.
  • Pertemuan Nabi Ibrahim AS dengan Nabi Ismail AS dan Sayyidah Hajar setelah lama berpisah.
  • Hari ketika Allah SWT memberikan kabar gembira berupa ampunan dan rahmat bagi para jamaah haji.

Keutamaan Hari Tarwiyah dan Arafah

Kedudukan hari Tarwiyah dan Arafah sangat agung dalam Islam. Bahkan Allah SWT bersumpah dengan kedua hari tersebut dalam Al-Qur’an:

وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ (الفجر: 3)

Artinya: “Demi yang genap dan yang ganjil.” (QS. Al-Fajr: 3).

Syekh Ibnu Abbas sebagaimana dikutip oleh Syekh Abu Hafs Umar bin Ali Ad-Dimisyqi dalam Al-Lubâb fi Ulûmil Kitâb menjelaskan:

قَالَ ابْنُ عَبَّاس (الشَّفْعِ) يَوْمُ التَّرْوِيَةِ وَعَرَفَةَ (وَالْوَتْرِ) يَوْمُ النَّحْرِ

Artinya: “Ibnu Abbas berkata: yang dimaksud ‘asy-syaf’i’ adalah hari Tarwiyah dan hari Arafah, sedangkan ‘al-watr’ adalah hari kurban.”

Keagungan kedua hari tersebut menunjukkan besarnya peluang ampunan dan rahmat Allah SWT bagi hamba-hamba-Nya. Karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah, doa, dzikir, dan puasa sunnah pada hari Tarwiyah dan Arafah sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT. Wallâhu a’lam bish-shawâb.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain