Maulana Syarif Sidi Syaikh Dr. Yusri Rusydi Sayid Jabr Al Hasani saat menggelar Ta’lim, Dzikir dan Ihya Nisfu Sya’ban (menghidupkan Nisfu Say’ban) di Ma’had ar Raudhatu Ihsan wa Zawiyah Qadiriyah Syadziliyah Zawiyah Arraudhah Ihsan Foundation Jl. Tebet Barat VIII No. 50 Jakarta Selatan, Jumat (19/4/2019). AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, aktual.com – Manusia sebagai Makhluk Allah Swt yang masih berada di dunia tidak terlepas dari proses yang dinamakan sebab akibat, dengan sebab akibat tersebut Allah Swt memberikan pelajaran berharga kepada Makhluknya.

Dalam hal ini Syekh Yusri hafidzahullah Ta’ala wa ro’ah menjelaskan dalam pengajian kitab Bahjat Annufusnya, bahwa dunia ini adalah merupakan alam hikmah, yaitu Allah menjadikan hubungan sebab akibat, yang mana seorang hamba selagi dirinya berada di alam fana ini, maka haruslah mengikuti aturan alam hikmah. Alam Hikmah tersebut terdapat Qudratullah yang bersembunyi di dalam alam hikmah.

Seperti halnya ketika seseorang merasa lapar, maka syariat memerintahkan untuk makan, karena Allah menjadikan rasa kenyang itu sebagai akibat dari makan.

Inilah yang dinamakan dengan alam hikmah, dimana seorang hamba harus berusaha untuk melakukan sebab al akhdzu bil asbab (berusaha untuk melakukan sebab), agar mendapatkan akibat atau sesuatu yang dikehendaki. Seperi dalam suatu kaidah disebutkan:

الأخذ بالأسباب

“Berusaha untuk melakukan sebab,”.

Makan adalah hikmah, dan rasa kenyang adalah Qudrah, dimana rasa kenyang ini bersembunyi pada makan itu sendiri. Maka dari itulah ulama tashawwuf berkata, bahwa

ترك الأسباب جهل والإعتماد عليها كفر

“Meninggalkan sebab (usaha dengan melakukan sebab agar mendapatkan akibat) adalah suatu kebodohan, dan bersandar kepada sebab itu sendiri adalah sebuah kekufuran,”.

Seperti contoh orang yang sakit akan tetapi tidak mau berobat, maka dia dikatakan sebagai orang yang bodoh, karena tidak mengetahui aturan Allah di alam hikmah ini, karena Allah memberikan kesembuhan melalui perantara berobat. Maka dari itulah baginda Nabi Muhammad Saw ketika para sahabat bertanya, “Apakah kita berobat ya Rasulallah?”, lalu Rasulullah Saw pun bersabda:

تَدَاوَوْا فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ الْهَرَمُ

“Berobatlah wahai kalian, karena sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidaklah menjadikan penyakit kecuali membuat obatnya, kecuali satu penyakit yaitu penyakit pikun,” (HR. Abu Dawud).

Adapun orang yang bersandar kepada sebab, dan meyakini bahwa sebab itulah yang memberikan kemanfaatan bukan Allah, maka ini adalah sebuah kekufuran. Karena dirinya telah menyekutukan Allah, dengan meyakini bahwa ada sesuatu selain Allah yang mampu dengan sendirinya memberikan kemanfaatan, padahal Allahlah yang Maha Esa yang mampu memberikan kemanfaatan dan kemadharatan untuk makhlukNya.

“Maka dari itulah, seorang mukmin hendaknya mengambil sebab, akan tetapi tidak bersandar kepadanya,” tegas Syekh Yusri.

Minum adalah hikmah dan hilang rasa dahaga adalah Qudrah, tidur adalah hikmah dan kekuatan di dalam badan adalah Qudrah, ketaatan adalah hikmah dan masuk surga adalah Qudrah, atau dengan kata lain syari’ah adalah hikmah, dan hakikat adalah Qudrah.

Wallahu A’lam

Sumber Ahbab Dr Yusri alhasany

(Rizky Zulkarnain)