Lansekap pemukiman padat penduduk di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (30/8/2016). Dengan rata-rata laju pertumbuhan penduduk mencapai 1,4 persen per tahun atau 135 ribu jiwa per tahun serta kepadatan penduduk di wilayah DKI Jakarta sebanyak 14.476 jiwa per kilometer persegi mampu memicu berbagai masalah khas perkotaan seperti tata ruang, kesehatan, kemiskinan dan kriminalitas.

Jakarta, Aktual.com – Senior Advisor dari School of Design Universitas Pelita Harapan (UPH) Alwi Sjaaf, mengatakan pembangunan berorientasi manusia seharusnya sudah menjadi komitmen bagi ahli tata kota maupun arsitektur, pembangunan tanpa melibatkan manusia tentu tidak ada gunanya.

“Kalau dalam membangun suatu proyek tidak melibatkan manusia, maka dapat dibilang proyek itu gagal,” kata Alwi dalam seminar bertajuk “Transforming Lives-Human & Cities” di Jakarta, Jumat (1/12).

Alwi mengatakan, hadirnya ahli dari luar negeri ditujukan untuk berbagai pengalaman karena sebelumnya mereka juga menghadapi persoalan yang sama dalam membangun kota, setelah menghadapi bencana barulah mereka melakukan banyak perubahan.

Menurut Alwi untuk membangun kota bukan hanya menjadi tanggungjawab pemerintah, tetapi peran warga untuk memelihara sarana dan prasarana disediakan menjadi bagian penting, untuk itulah pentingnya kerja sama.

Alwi memberikan contoh pekerjaan melebarkan jalan itu bukan untuk manusia, tetapi untuk kendaraan, tetapi penyediaan prasarana pejalan kaki, ruang publik, transportasi publik, penyediaan air bersih perpipaan, sistem pembuangan imbah, manajemen sampah semua itu berorientasi kepada manusia.

“Banyak kota-kota di dunia seperti diceritakan Massimiliano yang juga menghadapi persoalan, hanya saja mereka menyadari hal itu serta melakukan perbaikan dengan melaksanakan pembangunan beroritentasi kepada manusia,” ujar dia.

Sedangkan di Indonesia beberapa kota sudah mulai menerapkan pembangunan yang humanis bisa dilihat di Surabaya, Bandung, Semarang, serta Jakarta. Kuncinya duduk bersama antara pemerintah daerah, swasta, akademis untuk penyediaan fasilitas publik, jelas Alwi.

Menurut dia, tingginya rrbanisasi mendorong berkembangnya pusat kota besar sehingga pemandangan di pusat kota penuh dengan bangunan-bangunan raksasa dengan skala yang belum pernah dialami sebelumnya.

“Skala manusia mulai dilupakan ditengah hutan beton. Perlu solusi arsitektur yang sensitif untuk menjembatani perbedaan skala dan mengembalikan dimensi manusia dalam kehidupan perkotaan,” jelanya.

 

Ant.

Artikel ini ditulis oleh: