Sejumlah siswa tuna netra mengerjakan soal Ujian Nasional (UN) 2916 dengan huruf braile di Sekolah Luar Biasa Yayasan Anak-anak Tuna (SLB-B YAAT) Klaten, Jawa Tengah, Senin (9/5). Ujian Nasional tingkat SMP atau sederajat serentak diselenggarakan secara nasional mulai 9 Mei 2016, dengan jumlah peserta UN seluruh Indonesia sebanyak 4.052.068 siswa, termasuk 18.004 siswa peserta UN SMP di Kabupaten Klaten. ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/foc/16.

Jakarta, Aktual.com – Pernyataan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengenai pemakaian jilbab di sekolah, menuai komentar pedas Anggota DPRD DKI Syarif.

Kata Syarif, Ahok sebaiknya tidak usah banyak berkomentar mengenai banyak hal, apalagi yang tidak dipahaminya. Kali ini terkait soal penggunaan jilbab.

Apalagi, pernyataan yang bisa memancing kontroversi itu dilontarkan Ahok hanya beberapa hari jelang memasuki bulan Ramadhan.

“Ahok kalau nggak paham Islam, sebaiknya diam. Jangan semua dikomentari, apalagi mau intervensi soal jilbab,” ujar politisi Gerindra itu, Senin (6/6).

Diingatkan dia, memasuki bulan puasa, harusnya Ahok sebagai gubernur tidak mengeluarkan pernyataan yang justru ganggu ketenangan beribadah Umat Islam. “Masyarakat butuh ketenangan,” ucap dia.

Berangnya Syarif tidak lain disebabkan pernyataan Ahok saat berbicara di hadapan 1.700 Kepala Sekolah mulai tingkat TK, SD, SMP, SMA, SMK, akhir pekan lalu (4/6). Juga dihadiri pejabat struktural eselon III dan IV Dinas Pendidikan DKI. Acara pengarahan itu pun digelar di Gedung Yayasan Buddha Tzu Chi,

Kata Ahok, pihak sekolah jangan memaksa siswi untuk mengenakan jilbab. “Anda tidak bisa memaksa semua anak pakai kerudung,” ujar dia.

Kata dia lagi dengan pongahnya, jilbab bukan hanya milik Islam. Tapi juga dipakai Kristen dan Yahudi. “Kalau kita mau berdebat, orang Kristen sama Yahudi juga pakai kerudung,” ujar Ahok, yang membantah ucapannya sebagai anti Islam.

()