Purwokerto, Jawa Tengah, Aktual.com – Akademisi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Dr Rio Dhani Laksana mengatakan pemerintah perlu mengkaji menetapkan harga acuan tertinggi untuk kedelai impor sebagai solusi menghadapi lonjakan harga yang mempengaruhi aktivitas sejumlah industri di dalam negeri.

“Karena kenaikan yang fluktuatif, maka akan lebih baik jika pemerintah mengkaji kemungkinan menetapkan harga acuan tertinggi untuk kedelai impor,” katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Rabu (23/2).

Kepala Galeri Investasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsoed itu menjelaskan bahwa fleksibilitas harga kedelai ini sangat mempengaruhi konsumen.

Pasalnya, di tengah pelemahan daya beli masyarakat akibat pandemi COVID-19, maka produk tahu dan tempe menjadi alternatif protein masyarakat.

“Solusi peningkatan produksi kedelai memang perlu menjadi acuan kebijakan dari kementerian pertanian, tetapi di sisi lain peningkatan produksi kedelai lokal yang bertahap akan membutuhkan waktu yang panjang agar terealisasi,” kata Rio.

Menurutnya, kondisi mahalnya harga kedelai saat ini bisa jadi momentum peningkatan produksi.

“Jika melihat ketergantungan yang besar dan hampir 80 persen memang proses peningkatan produksi kedelai mutlak dilakukan oleh pemerintah. Namun, kendati terjadi peningkatan produksi kedelai lokal tetapi harus dilihat juga dari segi harga jual komoditas kedelai tersebut dari sisi ekonominya apakah harga bisa bersaing dengan kedelai impor,” katanya.

Hal lain yang dapat dilakukan pemerintah, kata dia, adalah melakukan operasi pasar dan memberikan program insentif atau subsidi harga impor kedelai.

“Hal ini juga bisa dilakukan pemerintah sementara waktu sampai harga kembali normal,” katanya.

Sementara itu, kata Rio, seperti yang dinyatakan pemerintah melalui Kementerian Perdagangan peningkatan harga kedelai pada minggu ini dikarenakan mengikuti pasar internasional.

“Kenaikan tersebut terjadi akibat ketidakpastian cuaca dan inflasi bahan makanan di AS, salah satu eksportir utama kedelai dunia. Harga kedelai menurut prediksi baru turun pada Juli mendatang dan itu pun tak signifikan,” katanya.

Kenaikan harga di level internasional itu, kata dia, jelas berdampak ke Indonesia karena sebagian kebutuhan kedelai di dalam negeri yang salah satunya untuk tahu dan tempe, didatangkan melalui impor.

(Antara)

(As'ad Syamsul Abidin)