nvestor melihat layar komputer yang menampilkan informasi saham di sebuah rumah pialang di Shanghai, China 16 Januari 2020. REUTERS / Aly Song
nvestor melihat layar komputer yang menampilkan informasi saham di sebuah rumah pialang di Shanghai, China 16 Januari 2020. REUTERS / Aly Song

Tokyo, aktual.com – Saham-saham anjlok pada perdagangan Senin (27/1), karena investor semakin cemas tentang dampak ekonomi dari penyebaran virus China, dengan permintaan melonjak untuk aset-aset safe-haven seperti yen Jepang dan surat utang pemerintah.

Indeks Nikkei 225 Jepang turun 2,0 persen, penurunan satu hari terbesar dalam lima bulan, sementara proksi China yang tercatat di Tokyo, indeks ETF ChinaAMC CSI 300, turun 2,20 persen. Di tengah liburan Tahun Baru Imlek, banyak pasar di Asia ditutup.

Kontrak berjangka E-mini untuk S&P 500 AS terakhir turun 1,0 persen, setelah jatuh 1,3 persen di awal perdagangan Asia. Saham-saham Eropa diperkirakan akan mengikuti, dengan saham berjangka utama Eropa diperdagangkan 1,2-1,4 persen lebih rendah.

“Dengan sebagian besar pasar Asia ditutup, investor uang cepat membeli lindung nilai risk-off (penghindaran risiko) seperti surat utang pemerintah dan menjual Nikkei,” kata Masahiko Loo, manajer portofolio di Alliance Bernstein.

“Saya pikir ini akan berlanjut minggu ini, sampai pasar China melanjutkan perdagangan minggu depan dan wabah virus korona mereda.”

Kemampuan virus corona untuk menyebar semakin kuat dan infeksi dapat terus meningkat, Komisi Kesehatan Nasional China mengatakan pada Minggu (26/1/2020), dengan hampir 2.800 orang terinfeksi secara global dan 81 di China meninggal oleh penyakit ini.

China mengumumkan akan memperpanjang liburan Tahun Baru Imlek selama selama tiga hari hingga 2 Februari dan sekolah akan kembali dari libur mereka lebih lambat dari biasanya. Hong Kong yang dikuasai China mengatakan akan melarang masuknya orang yang telah mengunjungi provinsi Hubei dalam 14 hari terakhir.

Pelaku pasar terus waspada terhadap perkembangan di sekitar virus, yang Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pekan lalu dianggap “darurat di China,” tetapi belum untuk seluruh dunia.

Indeks MSCI untuk saham Asia-Pasifik di luar Jepang turun 0,4 persen, meskipun perdagangan di wilayah tersebut telah melambat untuk Tahun Baru Imlek dan hari libur lainnya, dengan pasar keuangan di China, Hong Kong, Taiwan, Korea Selatan, Singapura dan Australia tutup pada Senin.

Ketiga indeks utama Wall Street ditutup melemah tajam pada Jumat (24/1/2020), dengan S&P 500 mengalami persentase penurunan satu hari terbesar dalam lebih dari tiga bulan.

S&P 500 kehilangan 0,9 persen, Dow Jones Industrial Average 0,6 persen dan Komposit Nasdaq turun 0,9 persen setelah Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit mengonfirmasi kasus kedua virus di negara AS.

Harga surat utang AS naik, menekan imbal hasil lebih lanjut, dengan obligasi pemerintah AS bertenor 10-tahun turun ke terendah tiga setengah bulan 1,627 persen di awal perdagangan Asia.

Di pasar mata uang, kekhawatiran tentang virus mendukung yen, sering dianggap sebagai tempat yang aman karena status kreditor bersih Jepang.

Mata uang Jepang menguat sebanyak 0,5 persen menjadi 108,73 yen per dolar, tertinggi dalam dua setengah minggu.

Euro terakhir berdiri di 1,1028 dolar AS, setelah jatuh ke level terendah delapan minggu di 1,1019 dolar AS pada Jumat (24/1/2020).

Yuan di pasar luar negeri melemah lebih dari 0,5 persen menjadi 6,9776 terhadap dolar AS, level terendah sejak 6 Januari.

Ketakutan yang meningkat akan dampak ekonomi dari virus korona juga menekan harga minyak dan komoditas lainnya, kecuali safe-haven emas

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) anjlok 3,8 persen hingga mencapai level terendah tiga setengah bulan di 52,15 dolar AS per barel pada awal perdagangan. Patokan internasional Brent merosot lebih dari tiga persen ke level terendah tiga bulan di 58,68 dolar AS per barel.

“Investor akan bereaksi cepat terhadap tanda-tanda negatif dan ini tidak terkecuali ketika China mengumumkan bahwa masalah ini telah menjadi keadaan darurat. Ini bisa membuat harga minyak rapuh sampai virus korona menunjukkan tanda-tanda melambat,” kata Mihir Kapadia, kepala eksekutif di Sun Global Investments.

Harga spot emas naik sebanyak 1,0 persen menjadi 1.585,80 dolar AS per ounce, level tertinggi sejak 8 Januari, karena meningkatnya kekhawatiran atas penyebaran wabah virus di China dan dampak ekonomi potensial mendorong investor membeli logam safe-haven.

(Eko Priyanto)