Jakarta, Aktual.com – Kinerja PT Unggul Indah Cahaya Tbk dengan kode saham UNIC yang memerah di tahun 2015 lalu, ternyata bisa terdongkrak dengan adanya implementasi dari paket kebijakan ekonomi ke-V.
Kinerja perseroan yang merupakan produsen tunggal alkybenzeene (bahan baku utama deterjen) ternyata ikut melakukan revaluasi aset perseroan sesuai paket kebijakan V, sehingga bisa mendongkrak kinerjanya.
“Pada 2015, perseroan masih mencatatkan rugi bersih senilai USD4,08 juta. Tapi dengan rebaluasi aset, laba bersih kami hingga September 2016 sebesar USD19,5 juta,” ujar Presiden Direktur Unggul Indah Cahaya, Yani Alifen di Jakarta, Senin (5/12).
Menurutnya, dari hasil revaluasi aset yang dilakukan perseroan menyumbang USD13 juta dan selebihnya sekitar USD7 juta dari kinerja operasi perusahaan.
Menurut dia, pada Desember 2015 perseroan telah memanfaatkan insentif dari pemerintah terkait revaluasi aset yang akhirnya mendapatkan persetujuan dari Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan pada September 2016.
“Sehingga dengan kebijakan itu, perseroan mendapatkan manfaat pajak penghasilan hingga USD13,79 juta,” jelasnya.
Peningkatan dari revaluasi aset tetap untuk tujuan perpajakan ini, kata dia, telah mendatangkan konsekuensi pajak yang timbul dari penilaian kembali yang diakui dalam neraca laba-rugi.
Dengan demikian, jelas dia, total aset konsolidasian perseroan hingga akhir September 2016 menjadi USD228,59 juta atau meningkat 3 persen dari total aset konsolidasian di akhir 2015 yang sebesar USD222,45 juta.
“Peningkatan ini terutama dari meningkatnya aset pajak tangguhan dampak dari revaluasi aset itu,” ujar dia.
Dengan kebijakan revaluasi aset itu, ungkap Alifen, dan ditambah laba bersih perseroan selama sembilan bulan pertama yang memperoleh sekitar USD7 juta, maka hingga akhir 2016 ditargetkan jumlahnya akan menjadi sekitar USD21 juta-USD21,83 juta.
“Apalagi, laba bersih di Kuartal III-2016 sebesar USD19,5 juta setara dengan pertumbuhan 578 persen (yoy),” jelasnya.
Dengan meningkatnya harga crude oil sebagai penyumbang produksi alkyl benzene (bahan baku utama deterjen), yang cenderung meningkat dan stabil di 2016, membuat harga alkyl benzene cukup kompetitif terhadap produk substitusi.
“Sehingga volume penjualan meningkat dan margin laba bruto menjadi lebih baik,” paparnya.
Hingga akhir September 2016, perseroan mencatatkan laba bruto USD24,37 juta atau meningkat 72 persen (yoy). “Margin laba kotor kami sebesr 12,16 persen atau meningkat dibanding periode yang sama 2015 sebesar 6,54 persen,” kata Alifen.
Apakagi memang, dengan semakin bertumbuhnya produksi detergen, membuat prospek perseroan sebagai produsen alkyl benzene juga menjadi positif
“Pertumbuhan alkyl benzene sejalan dengan pertumbuhan detergen sekitar 3-5 persen per tahun,” tegasnya. (Busthomi)
Artikel ini ditulis oleh:












