Gelombang kelegaan sempat menyapu Iran ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penundaan serangan terhadap infrastruktur energi negara itu. Pernyataan tersebut muncul setelah ia mengklaim adanya percakapan produktif dengan Teheran. Klaim yang segera dibantah Iran, baik secara langsung maupun melalui jalur perantara.
Kendati demikian, ruang diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Turki melalui Menteri Luar Negeri Hakan Fidan, serta Oman lewat Badr Albusaidi, tetap menjaga komunikasi intensif melalui sambungan telepon dengan pihak-pihak terkait di Teheran dan Washington. Jalur ini menjadi satu-satunya penghubung di tengah meningkatnya ketegangan.
Namun suasana di dalam negeri Iran jauh dari tenang. Ancaman yang belum sepenuhnya hilang membuat masyarakat hidup dalam kecemasan, setidaknya hingga akhir pekan. Sebagian kalangan menilai ancaman terhadap pasokan listrik hanya pengalihan dari tujuan yang lebih strategis, yakni upaya menguasai Selat Hormuz.
Reaksi publik pun beragam, mulai dari sikap menantang, kemarahan, hingga ketakutan. Potensi pemadaman listrik berskala besar menjadi bayangan yang mengkhawatirkan, terutama bagi kelompok rentan.
Dikutip dari theguardian.com, seorang jurnalis yang juga analis politik Iran, Ahmad Zeidabadi, menggambarkan skenario tersebut dengan nada suram. Ia mengatakan, “Jika aliran listrik ke 90 juta orang terputus, rumah dan jalanan akan gelap gulita, para lansia dan penyandang disabilitas akan terperangkap di gedung-gedung apartemen, dan air, gas, bensin, serta solar akan menjadi langka, yang kemudian segera diikuti oleh kekurangan makanan, kebersihan, dan transportasi.”
Zeidabadi bahkan menyebut ancaman itu sebagai “ancaman terbesar yang ditimbulkan terhadap negara kita atau negara mana pun di dunia sepanjang sejarah”. Ia menambahkan, “Jika rakyat Amerika atau negara lain tidak menghentikan makhluk biadab ini, Timur Tengah akan langsung menjadi neraka yang tak terbayangkan dan kemudian menjadi tanah tandus dan tidak layak huni.”
Dari lingkar kekuasaan, nada serupa muncul. Yousef Pezeshkian, putra Presiden Iran Masoud Pezeshkian, memperingatkan konsekuensi timbal balik dari setiap serangan. “Ketika Amerika menyerang infrastruktur, konsekuensinya akan kembali kepada Anda. Anda tidak bisa mengatakan ‘Saya akan memutus aliran listrik Anda, tetapi Anda tidak boleh memutus aliran listrik saya.’ Apa pun yang kita lakukan cepat atau lambat akan kembali menghantui kita. Ini adalah hukum alam dan sistem penciptaan. Inilah kehormatan dunia,” ujarnya.
Kritik juga datang dari kalangan hukum. Pengacara internasional Reza Nasri menilai, bahwa serangan terhadap pembangkit listrik, jika benar terjadi, bukan sekadar dampak perang, melainkan tindakan yang direncanakan. Ia menyoroti lemahnya pengawasan legislatif dan yudisial di Amerika Serikat sebagai indikasi adanya persoalan mendasar dalam sistem politik negara tersebut.
Di sisi teknis, sejumlah pakar energi menilai serangan tidak akan mudah melumpuhkan Iran. Mohammad Enayati menyebut jaringan listrik Iran yang mencapai kapasitas 100.000 megawatt tersebar luas, sehingga sulit dihancurkan hanya dengan beberapa serangan udara. Ia juga mencatat bahwa konsumsi listrik sedang menurun akibat liburan musim semi, yang justru mempermudah pengelolaan jaringan.
Eksodus warga dari Teheran pun meningkat. Lalu lintas di jalur keluar kota padat, dan diperkirakan lebih dari tiga juta orang telah mengungsi di dalam negeri akibat situasi perang.
Dari perspektif diplomatik, mantan duta besar Iran untuk Inggris, Mohsen Baharvand, mengecam kemungkinan serangan terhadap fasilitas sipil. “Tidak ada kehormatan atau kredibilitas kepada negara adidaya jika negara tersebut menyerang fasilitas sipil dengan senjata canggih dan destruktif serta menyebabkan masalah kritis bagi negara sipil,” ujarnya.
Ia juga menilai tindakan semacam itu tidak perlu lagi dibuktikan sebagai kejahatan perang. “Tidak perlu membuktikan terjadinya kejahatan perang ketika seorang pemimpin dunia menganggap operasi militer dan pembunuhan orang sebagai semacam hiburan atau kesenangan,” katanya.
Di tengah tekanan, Iran tetap membuka ruang diplomasi. Baharvand menyebut Selat Hormuz masih bisa menjadi “kartu untuk perdamaian”. Namun di sisi lain, Garda Revolusi menegaskan kesiapan untuk membalas dengan menyerang infrastruktur energi di kawasan Teluk, langkah yang berpotensi memicu krisis ekonomi dan kemanusiaan yang lebih luas.
Kekhawatiran juga meningkat terkait kemungkinan pengiriman pasukan darat AS untuk merebut Pulau Kharg, pusat ekspor minyak Iran. Mantan wakil ketua parlemen Ali Motahari bahkan menilai ancaman terhadap pembangkit listrik hanyalah tipuan untuk menutupi rencana tersebut.
Dewan Pertahanan Iran memperingatkan konsekuensi serius jika wilayahnya diserang. “Setiap upaya musuh untuk menyerang pantai atau pulau-pulau Iran secara alami akan menyebabkan pemasangan ranjau di semua jalur akses dan jalur komunikasi di Teluk Persia dan pantainya dengan berbagai ranjau laut termasuk ranjau penyelam yang dapat ditempatkan dari pantai,” demikian pernyataan mereka.
Pernyataan itu menegaskan bahwa seluruh Teluk Persia berpotensi terblokir dalam waktu lama, mengingat pengalaman masa lalu ketika ribuan ranjau laut sulit dibersihkan.
Sementara itu, Iran juga membantah tuduhan pengiriman rudal balistik antarbenua ke arah pangkalan militer Inggris di Diego Garcia. Pemerintah Inggris sendiri menyatakan tidak ada penilaian spesifik bahwa Iran menargetkan wilayah mereka.
Artikel ini ditulis oleh:
Andry Haryanto














