Jakarta, Aktual.com – Aneh bin ajaib, harga gas stagnan dan cenderung turun dalam lima tahun erakhir, namun subsidi LPG 3 kg menjadi juara dalam ukuran besaran subsidi pada tahun 2019.

Hal ini menjadi anomali disaat produksi gas nasional meningkat dan mengalahkan produksi minyak. Bahkan Indonesia telah menjadi salah satu produsen gas utama dan salah satu negara eksportir gas terbesar di dunia.

Namun ternyata kekayaan gas melimpah ternyata mewariskan beban yang selalu dikeluhkan pemerintah yakni subsidi. Bahkan subsidi LPG 3 kg tahun 2019 mencapai Rp. 69,64 triliun, jauh meninggalkan atau mengalahkan subsidi lainnya, seperti subsidi premium 0 rupiah, subsidi solar dan minyak tanah 31,4 triliun, subsidi listrik Rp. 59,3 triliun.

Beban subsidi yang dikeluhkan pemerintah adalah berasal dari selisih perhitungan harga keekonomian produsen LPG dalam hal ini Pertamina (sekarang pertamina gas berada di bawah PGN) dengan harga yang ditetapkan pemerintah.

Pertanyaannya adalah ; apakah biaya produksi LPG yang terlampau mahal? atau apakah harga yang ditetapkan pemerintah yang terlalu murah ?atau apakah asumsi asumsi yang dibuat pemerintah dalam menentukan besaran subsidi yang salah atau meleset?. Tiga tiganya bisa benar semua.

(Abdul Hamid)