Jakarta, Aktual.com – Kemenag Riau melalui bidang Penyelenggara Haji dan Umrah melakukan sidak ke VFS Tasheel Pekanbaru yang berlokasi di Jalan Adisucipto No 1 Pekanbaru Riau pada Jumat (21/12) terkait gonjang ganjing Scan Biometrik yang diberlakukan Pemerintahan Arab Saudi baru baru ini, untuk jamaah umrah. Kepala Seksi H Abdul Wahid yang didaulat untuk melakukan sidak terhadap pelayanan rekaman biometrik jemaah umrah Riau.

Wahid mengatakan untuk segera mencari lokasi tempat yang memadai untuk scan biometrik jamaah. Pasalnya, tempat yang sekarang ditempati masih jauh dari representatif saat menampung jamaah yang terus melonjak naik untuk beribadah umrah ke tanah suci. “Perlu adanya area yang luas dan ruangan yang memadai untuk melayani jamaah, rata rata bisa mencapai ratusan orang perharinya,” sebutnya, seperti dikutip dari laman Kementerian Agama Provinsi Riau, di Jakarta, Sabtu (22/12).

Kedua, Wahid juga menyinggung masalah SDM yang masih minim. Saat ini baru memiliki dua alat perekam dan 3 orang SDM, dimana tiga orang ini satu bertugas untuk mendata, yang satu untuk rekaman, dan satu lainnya merekap, dengan demikian belum mencapai standart pelayanan seharusnya.

Dikatakannyakita tentu mengharapkan peralatan dan petugas bisa ditambah, agar masa tunggu perekaman bisa dipangkas. Ia mengatakan pihak VFS Tasheel akan mendatangkan dua orang lagi dari Jakarta sebagai tambahan SDM. “Awal tahun ini insyaallah sudah ada lima orang yang akan menangani proses rekam biometrik ini”, ucapnya.

Ketiga, mengingat Provinsi Riau ini antara satu daerah dengan lainnya cukup jauh, bahkan ada wilayah daratan dan ada lautan juga. Maka pihaknya mengaku bersama dengan pihak travel Kedepan akan membuat program untuk pembagian wilayah di Riau ini sehingga nantinya akan berkumpul di satu titik.

“Dengan jumlah jamaah sekian ratus orang misalnya, untuk beberapa Kabupaten dikumpulkan, dan langsung operator ini yang akan mendatangi jamaah, dari pada ratusan orang yang datang ke Pekanbaru, mendingan dua operator ini saja”, ujarnya. Dicontohkannya, untuk pembagian wilayah semisal ada empat kabupaten yang berdekatan, ada satu titik kantornya, sehingga jauh lebih memudahkan jamaah dan tidak perlu jauh jauh lagi ke Pekanbaru. Kalaupun belum bisa dipenuhi pihak dari pusat nantinya, kita tetap akan pakai sistem jemput bola tadi, dimana operator yang akan mendatangi jamaah, ungkap Wahid.

Kepada pihak biro travel Wahid meminta untuk lebih mempelajari sistem yang baru diberlakukan Pemerintahan Arab Saudi tersebut, sehingga secara administrasi tidak akan menemukan kendala yang berarti nantinya. Untuk diketahui dalam prosee melakukan rekaman biometrik ini juga harus di sosialisasikan. “Jangan sampai ada jemaah yang gagal berangkat hanya karena kita tidak bisa melakukan rekam biometrik ini”, kata Wahid.

Sekali lagi ini bukan kebijakan Menag RI, tapi ketentuan pihak pemerintahan Arab Saudi dan harus kita ikuti, sebutnya mengingatkan Yang dikhawatirkan, jamaah berpandangan lain menganggap pemerintah mempersulit, sementara ketentuan scan biometrik yang masa berlakunya hanya enam bulan ini adalah ketentuan Pemerintahan Arab Saudi demi jaminan keamanan tamu tamu Allah ditanah suci, jelas Wahid.

Terakhir Wahid meminta kesabaran dari jamaah dalam menjalani ketentuan ini. Ia menuturkan karena scan biometrik memang sistem baru, maka baik itu penyelenggara atau pelayan jemaah di negeri ini, penyedia jasa maupun jemaah terlihat belum siap, artinya masih dalam sama sama dalam tahap penyesuaian. “Ibarat kata ini baru uji coba atau praktek, semuanya masih dalam tahap belajar, insyaallah Kedepan semakin baik”, tutupnya mengakhiri bincang melalui sambungan via seluler kepada tim Inmas.

()