Jakarta, Aktual.com — Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan melanjutkan putaran kedua perundingan di Islamabad, Pakistan, dalam waktu dekat, dengan fokus pada finalisasi kesepakatan untuk meredakan konflik yang berdampak pada kawasan Timur Tengah.
Mengutip laporan Anadolu Agency, sumber pemerintah Pakistan menyebutkan pertemuan teknis kedua negara kemungkinan berlangsung paling cepat pada Senin (20/4/2026).
“Tim teknis dari kedua pihak diperkirakan bertemu di Islamabad untuk putaran berikutnya, kemungkinan besar pada Senin,” ujar sumber tersebut.
Perundingan ini disebut bertujuan merampungkan draf kesepakatan atas konflik yang telah berlangsung selama beberapa pekan dan berdampak pada pasokan energi global.
Sumber yang sama menyebutkan, apabila draf kesepakatan telah tercapai, para pemimpin negara, termasuk Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, berpotensi hadir di Islamabad untuk menandatangani kesepakatan tersebut.
“Begitu mereka mencapai draf, Presiden Donald Trump, Presiden Iran Masoud Pezeshkian, serta sejumlah kepala negara penting lainnya akan segera terbang ke Islamabad untuk menandatangani kesepakatan,” kata sumber tersebut.
Sementara itu, perkembangan komunikasi antara kedua pihak terus berlangsung sejak putaran pertama perundingan pada 11–12 April 2026.
Di sisi lain, laporan CNN menyebutkan para negosiator diperkirakan tiba di Islamabad pada Minggu (19/4/2026), meski belum ada pengumuman resmi terkait jadwal perundingan lanjutan.
Dalam perkembangan terpisah, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa Selat Hormuz telah dibuka kembali untuk kapal komersial.
“Selat Hormuz sepenuhnya terbuka untuk seluruh kapal komersial,” ujarnya melalui pernyataan di media sosial.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump juga menyatakan optimisme terhadap jalannya negosiasi. Mengutip laporan Sputnik, Trump menyebut pembicaraan antara kedua negara berjalan positif.
“Kami sedang melakukan pembicaraan yang sangat baik. Ini berjalan dengan sangat baik,” kata Trump dalam pernyataannya di Gedung Putih.
Ia menambahkan, Amerika Serikat tetap mengambil sikap tegas dalam proses negosiasi tersebut.
Perundingan ini merupakan bagian dari upaya lanjutan setelah konflik yang memanas sejak akhir Februari 2026, termasuk serangan militer dan aksi balasan antara pihak-pihak terkait di kawasan Timur Tengah.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi
















