Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Kestuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) berujuk rasa di depan kantor PMK, Jalan Medan Merdeka, Jakarta Pusat, Jumat (14/9/2018). Aksi mahasiswa ini menuntut pemerintahan Jokowi untuk menstabilkan nilai tukar rupiah, menurunkan harga kebutuhan pokok, menghentikan impor yang tidak diperlukan dan melakukan swasembada pangan. AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, Aktual.com – Analis pasar modal Reza Priyambada mengungkapkan laju Rupiah sempat mengalami kenaikan melampaui posisi tertinggi sebelumnya. Akan tetapi, jelang akhir perdagangan pergerakan Rupiah kembali tercatat melemah. Kembali munculnya kekhawatiran akan adanya perlambatan ekonomi global membuat risk appetite pelaku pasar meningkat sehingga meningkatkan permintaan atas mata uang USD sebagai safe haven.

Di sisi lain, adanya rilis data-data ekonomi Tiongkok yang melambat membuat mata uang CNY bergerak turun. Begitupun dengan EUR yang juga turun setelah dirilisnya sejumlah data-data ekonomi beberapa negara di Benua Eropa yang mengindikasikan adanya penurunan. Tidak hanya itu, adanya pernyataan European Central Bank (ECB) yang menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi tahun depan dari 1,8% menjadi 1,7% dan juga rencana untuk menghentikan program pembelian obligasi mulai akhir tahun ini turut menekan EUR. Akibat kedua mata uang tersebut melemah terhadap USD sehingga juga berimbas pada melemahnya Rupiah.

“Pada awal pekan, Rupiah diperkirakan akan bergerak di kisaran 14540-14527. Laju Rupiah kembali mencoba menyentuh area middle bollinger band dan sempat melampauinya sehingga memberikan peluang bagi Rupiah untuk dapat kembali bergerak menguat,” jelasnya.

Sentimen positif masih diharapkan terutama dari dalam negeri untuk dapat mendukung kenaikan tersebut. Namun demikian, tetap waspadai berbagai macam sentimen dan waspadai adanya sentimen yang dapat membuat laju Rupiah kembali melemah terutama dari USD yang mulai bergerak naik sehingga dapat membuat laju Rupiah kembali melemah.

(Eka)