Badai Salju (istimewa)

Jakarta, Aktual.com – Beberapa masjid di Inggris dan Irlandia membuka pintu bagi para tunawisma karena cuaca dingin terus menggigit, dengan suhu yang turun di bawah nol derajat dan hujan salju terus berlanjut sejak Senin (26/2) lalu yang melanda seluruh wilayah Inggris Raya.

Kekhawatiran terhadap orang-orang yang rentan terus meningkat pada hari Jumat (Sabtu WIB) saat Kantor Meteorologi mengeluarkan peringatan merah untuk salju – tingkat peringatan tertinggi – di bagian barat daya Inggris dan Wales selatan.

Peringatan dari “Amber warnings” dan warna kuning diberlakukan di Inggris pada hari Jumat dan akhir pekan, dengan datangnya Storm Emma yang akan membawa salju tebal dan angin kencang.

Pengurus Masjid Makki di kota utara Manchester, Rabnawaz Akbar mengatakan temperatur cukup parah. “Jadi kami berpikir mengapa kita tidak melakukan sesuatu untuk membantu?” ujar Rabnawaz Akbar, kepada Al Jazeera.

Dalam beberapa hari terakhir, beberapa sukarelawan berkemah di tempat ibadah, menyediakan makanan dan tempat berlindung bagi tunawisma di Manchester. Masjid ini juga menawarkan fasilitas mandi untuk mereka yang mencari tempat tinggal.

Masjid yang terletak di daerah yang didominasi penduduk dari Asia Selatan menyediakan makanan tradisional khas Bangladesh dan Pakistan seperti nasi dan ayam kari.

Akbar mengatakan jumlah tunawisma di Manchester terus berkembang. “Langkah penghematan selama delapan tahun terakhir berarti pelayanan untuk masyarakat membutuhkan tidak ada lagi,” ujarnya.

Hal ini menyebabkan orang tidur di jalanan, solusinya bukan hanya tentang orang-orang yang memiliki tempat tinggal. Beberapa orang memiliki masalah kesehatan mental, mereka adalah korban kekerasan dalam rumah tangga, pecandu narkoba atau imigran yang tidak tercatat – mereka tidak memiliki jalan lain selain sumbangan dari masyarakat.

Untuk memastikan mereka tidak di jalan, mereka memerlukan pelayanan pendukung, tidak hanya memberi mereka tempat menginap semalam. Sayangnya, adanya pemotongan anggaran di pihak berwenang setempat, tidak memiliki sumber daya.

(Nebby)