Jakarta, Aktual.com — PT Waskita Karya (Persero) Tbk, saat ini tengah mencari investor strategic untuk menjual anak usahanya, PT Waskita Toll Road (WTR). Langkah ini ditawarkan kepada investor asing maupun lokal, yang penting dapat harga yang lebih tinggi.

“Jadi prinsip penjualan ini, yang penting dapat untung. Istilahnya, kalau dulu belinya 100, dijual harus di atas 100. Yang jelas, pasti di atas cost of fund,” tegas Direktur Utama Waskita Karya, M. Chaliq di Jakarta, Selasa (5/4). Dia sendiri belum berani memastikan nilai jusl atau valuasi dari WTR itu.

Padahal, emiten berkode WSKT ini, sebetulnya pada tahun 2016 ini bakal lebih fokus untuk menggarap proyek-proyek jalan tol, yang selama ini dikelola oleh WTR, seperti yang diinginkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Bahkan di 2018, perseroan menargetkan menjadi investor tol bukan sebagai kontraktor tol.

Namun demikian, ia mengklaim dengan menjual itu tetap pihaknya bisa ikut membangun ruas proyek jalan tol itu. “Intinya itu tetap mengembangkan infrastruktur jalan tol, sekalipun tidak memiliki (WTR),” papar dia.

Sejauh ini pihaknya sudah banyak membicarakan dengan pihak strategic investor itu, akan tetapi belum ada yang mengkerucut sampai final.

“Kami tawarkan ke strategic investor, mereka itu yang pandangannya untuk longterm investment. Jadi dengan siapa pun, asing atau lokal, kami akan bicarakan,” tukas Chaliq.

Bahkan saham yang ditawarkan itu cukup banyak, sehingga memungkinkan pihaknya bukan lagi sebagai pemegang saham mayoritas.

“Saham yang kami lepas itu tergantung peminat market. Sehingga sangat mungkin nantinya kami bukan mayoritas. Tidak apa-apa itu,” terang dia.

Saat ini WTR sudah banyak mengembangkan proyek jalan tol. Makanya mekanisme penjualan ini, menawarkan nilai proyek jalan tol yang hampir atau sudah rampung ke investor. Sehingga, nantinya pengelolaannya itu bukan lagi ada di tangan WSKT.

Langkah ini, menurut Chaliq, hanya ingin mencari untung saja. Namun dipastikan, harga saham WTR pasti tinggi. Mengingat setiap jalan tol dikembangan dengan biaya tinggi. Jalan tol yang hampir rampung rute Pejagan-Pemalang menghabiskan investasi mencapai Rp7 triliun.

“Sebetulnya kami tawarkan bisa lewat utang atau jual saham. Mekanisme jual saham ini ya saham WTR,” katanya.

Sebetulnya, masih ada cara lain dengan mendapatkan dana tapi tanpa melepas saham mayoritasnya, yaitu dengan mewarkan saham ke publik atau initial public offering (IPO).

“Tetapi langkah IPO belum bisa, karena WTR belum punya revenue,” tegasnya dengan menambahkan pemerintah, disebut Chaliq, sudah merestuinya.

Sebetulnya, anak usaha ini memiliki prospek yang cerah. Makanya, induknya pun (WSKT) gemar menyuntik dana ke WTR. Belum lama ini, WSKT sudah menggelontorkan Rp220 miliar untuk membeli 60 persen saham di PT Pemalang Batang Tol Road (PBTR).

Dan beberapa bulan sebelumnya, WSKT juga sudah kucurkan dana sebesar Rp16,30 miliar.

(Arbie Marwan)