Jakarta, Aktual.com — Wakil Ketua Fraksi Golkar MPR RI, Firman Soebagyo, menyoroti rendahnya kesejahteraan guru honorer dan guru bantu di berbagai daerah yang dinilai masih jauh dari layak.
Dalam diskusi pendidikan yang digelar Fraksi Golkar MPR RI, Firman menegaskan bahwa kualitas sumber daya manusia merupakan kunci utama kemajuan bangsa. Ia mengutip pandangan Presiden ke-3 RI, B. J. Habibie, bahwa kemajuan negara ditentukan oleh kualitas manusianya, bukan semata kekayaan sumber daya alam.
“Untuk mencapai Indonesia Emas 2045 itu omong kosong kalau kondisi pendidikan dasar dan kesejahteraan guru masih seperti sekarang,” ujar Firman, Rabu (27/5/2026).
Menurutnya, meskipun anggaran pendidikan telah dialokasikan cukup besar sesuai amanat konstitusi, implementasinya di daerah masih perlu dievaluasi.
Firman juga menyinggung amanat Pasal 31 UUD 1945 yang mewajibkan negara membiayai pendidikan dasar bagi seluruh warga negara. Namun, pada praktiknya masih banyak guru honorer yang menerima gaji sangat rendah.
Ia mengungkapkan, di sejumlah daerah terdapat guru bantu yang hanya menerima gaji sekitar Rp300 ribu per bulan, bahkan dibayarkan setiap tiga bulan sekali. Kondisi tersebut memaksa sebagian guru mencari pekerjaan tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
“Ada guru yang menjadi pengemudi ojek online, ada yang bekerja mencuci pakaian untuk bertahan hidup. Bahkan THR yang diterima hanya Rp80 ribu,” katanya.
Firman menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa kesejahteraan guru belum menjadi prioritas utama, padahal peran guru sangat fundamental dalam mencetak generasi berkualitas.
Ia juga menyoroti adanya dugaan penyimpangan penggunaan anggaran pendidikan di daerah yang dinilai tidak sepenuhnya dialokasikan untuk kepentingan sektor pendidikan.
Karena itu, Firman meminta pemerintah menghadirkan solusi konkret serta keberpihakan nyata terhadap guru honorer dan guru bantu di seluruh Indonesia.
“Kita tidak boleh hanya menyampaikan hal-hal normatif. Harus ada solusi nyata untuk memperbaiki kesejahteraan guru demi masa depan pendidikan nasional,” tegasnya.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi

















