Pengunjung mengajukan lamaran pekerjaan saat acara 'Job Fair' di Auditorium Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Sleman, DI Yogyakarta, Selasa (19/7). Acara yang digagas oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) DIY bersama UNY yang diikuti oleh puluhan perusahaan nasional guna mengurangi angka pengangguran di Yogyakarta itu berlangsung pada 19 ┬ľ 21 Juli 2016. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/foc/16.

Jakarta, Aktual.com – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menargetkan pada lima tahun ke depan angka pengangguran di Indonesia berada pada kisaran tiga hingga empat persen.

“Mengenai strategi untuk pengurangan pengangguran target kita memang lima tahun kedepan pengangguran bisa turun di seputaran tiga sampai empat persen,” ujar Bambang saat ditemui dalam acara Indonesia Development Forum 2019, di Jakarta Convention Center, Jakarta, Senin (22/7).

Bambang mengatakan saat ini angka pengangguran di Indonesia relatif telah rendah, yakni berada di kisaran lima persen. Namun demikian, masih terdapat permasalahan lain, yakni mengenai sebaran pekerjaan.

Ia menjelaskan bahwa 60 persen pekerja di Tanah Air masih bekerja di sektor informal, yang notabene cenderung berpenghasilan kecil dan memiliki produktivitas rendah.

“Berarti kita tidak hanya cukup mengurangi angka pengangguran, tapi memperbaiki lebih banyak dari yang bekerja itu masuk ke sektor formal,” ucap Bambang.

Bambang melanjutkan, apabila semakin banyak pekerja yang bekerja di sektor formal, maka upah yang diperoleh akan semakin baik. Hal tersebut akan berdampak terhadap pengurangan angka kemiskinan.

Oleh karena itu, agar upaya tersebut terwujud, kata dia, diperlukan peningkatan kualitas pada sumber daya manusia mengikuti kebutuhan pasar.

Bambang meminta kepada sekolah menengah kejuruan (SMK), balai latihan kerja (BLK), maupun politeknik, agar dapat mencetak calon tenaga kerja yang dibutuhkan pasar.

“Vokasi harus disesuaikan dengan kebutuhan pasar, tidak bisa lagi yang namanya SMK, BLK maupun politeknik itu hanya sibuk dengan kurikulumnya sendiri, sibuk dengan ijazahnya sendiri dan tidak memperhatikan kebutuhan┬ámarket,” ujar Bambang.

(Arbie Marwan)