Jakarta, Aktual.com — Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) menilai wacana bela negara tidak sepenuhnya tepat jika dilakukan saat ini. Ketua Umum HIPMI, Bahlil Lahadalia menyebutkan, ketimbang penguatan fisik dan mental, negara harusnya memperjuangkan masalah ekonomi negara.

“Daripada bela negara dalam bentuk fisik, lebih baik bela negara dalam konteks ekonomi. Ancamannya jelas, jumlah pengusaha indonesia hanya 0,6 persen dari populasi. Bandingkan dengan Malaysia yang sampai 5 persen,” demikian kata Bahlil, dalam dialog bertajuk ‘Bela Negara dalam Prespektif Pengusaha Muda’, di Jakarta, Kamis (29/10).

Saat ini, Indonesia masih kekurangan 1,5 juta pengusaha. Apalagi, paradigma Mahasiswa sekarang, kebanyakan jika lulus hanya berpikir bagaimana mendapat pekerjaan, bukan menjadi pengusaha.

“Belum lagi rencana MEA akhir tahun. Dimana 10 negara ASEAN bakal menggempur ekonomi bangsa dengan investasinya. Tidak hanya investasi uang. Tapi juga pengangguran,” ungkapnya.

Tanpa menunggu MEA-pun, invasi pekerja asing sudah masuk ke Indonesia sampai ke pelosok negeri.

“Di Papua sopir truk sekarang sudah banyak orang Cina. Masa nggak ada orang Indonesia yang bisa jadi sopir,” keluhnya menambahkan.

Sehingga, menurutnya, negara harus bersiap dalam bidang ekonomi dalam rangka bela negara saat ini.

()