Rangkaian peristiwa kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026), sekitar pukul 20.55 WIB, tidak terjadi dalam satu momen tunggal. Berawal dari gangguan di perlintasan sebidang, lalu berujung pada tabrakan keras antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek.
Insiden maut itu bermula di perlintasan dekat Bulak Kapal. Manajer Humas KAI Daop 1 Jakarta, Franoto Wibowo, menjelaskan bahwa KRL rute Cikarang arah Kampung Bandan terlebih dahulu mengalami insiden dengan sebuah taksi SM Green.
“Jadi KRL-nya itu ada taksi yang menemper KRL di JPL (Jalur Perlintasan Langsung) lintasan dekat Bulak Kapal, yang membuat KRL-nya terhenti,” ujar Franoto.
KRL yang terdampak insiden yang menuju Cikarang, kemudian berhenti di di emplasemen Stasiun Bekasi Timur
Dalam kondisi itulah, rangkaian KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi melaju dari arah belakang. Jarak dan waktu reaksi yang terbatas membuat tabrakan tak terhindarkan.
“KRL berhenti, di belakangnya ada Kereta Argo Bromo,” kata Franoto.
Dampak paling parah berada di gerbong belakang KRL, termasuk gerbong nomor 8 yang merupakan gerbong khusus wanita. Sejumlah penumpang terjepit akibat rangkaian kereta yang ringsek dan saling menindih.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin kemudian menyampaikan pembaruan korban. “Jumlah korban yang terjadi kecelakaan kereta tadi malam, meninggal dunia itu 7 orang,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Dan luka-luka dan dirawat itu sebanyak 81 orang.” Hingga proses evakuasi berlangsung, masih terdapat korban yang terjebak di dalam gerbong.
“Dan yang ada masih terperangkap itu sekitar 3 orang,” katanya.
Proses penyelamatan berlangsung sepanjang malam hingga Selasa dini hari. Tim SAR gabungan menggunakan peralatan ekstrikasi berat untuk memotong rangkaian besi yang menjepit korban.
Kepala Basarnas Mohammad Syafii menyebut evakuasi dilakukan bergantian dalam ruang sempit.
“Kami melibatkan personel yang memiliki kemampuan khusus ekstrikasi. Proses evakuasi berjalan simultan dengan penanganan medis di lokasi,” ujarnya.
Di sisi lain, pihak operator taksi Green SM memberikan pernyataan resmi melalui akun media sosialnya.
“Green SM Indonesia menaruh perhatian penuh pada terjadinya insiden di area perlintasan dekat Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026, yang melibatkan satu kendaraan Green SM dan kereta yang melintas,” tulis pihak operator taksi asal Vietnam ini.
Perusahaan tersebut menyebut telah berkoordinasi dengan pihak berwenang. “Kami telah menyampaikan informasi yang relevan kepada pihak berwenang serta mendukung penuh proses investigasi yang sedang berlangsung,” demikian pernyataan mereka.
Green SM juga menegaskan, “Keselamatan tetap menjadi prioritas utama kami,” tulis Green SM tanpa ada kolom komentar yang dibuka.
Hingga kini, penyebab pasti kecelakaan masih dalam proses investigasi oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Artikel ini ditulis oleh:
Andry Haryanto















