Jakarta, Aktual.co — Papandayan, gunung yang terletak di Kabupaten Garut ini menjadi magnet buat para pendaki. Kecantikan alam membuat pendaki dan masyarakat umum berduyun-duyun menyambangi gunung berketinggian 2665 meter di atas permukaan laut. Sementara kalangan meyakini Papandayan berarti pandai besi. Gunung ini diduga menjadi ‘markas’ dari pandai besi di masa lalu.
Secara umum, ada beberapa spot yang menarik di gunung ini. Setelah mendaftar di pos pertama, pendaki akan disuguhi dengan keindahan kawah gunung. Bau belerang menjadi khas dari spot ini.
Kemudian, pendaki juga bisa menikmati eksotisme hutan mati. Hutan mati terbentuk dari letusan gunung, dan menyisakan batang-batang kayu. Lalu, pendaki bisa juga melihat hamparan luas pohon edelweis alias bunga abadi di Tegal Alun.
Pengelolaan perizinan di Gunung Papandayan pun lumayan profesional. Ini terbukti dengan akses masuk gunung yang mudah, kebersihan gunung dan keramahan para pengelola perizinan.
Salah satu relawan, Opik mengatakan, memang pemerintah dan warga berpartisipasi dalam pengelolaan gunung. Pemerintah diwakili oleh BKSDA dan warga yang mengorganisir diri secara swadaya.
“Ya kalau untuk saat ini dari warga yang lebih berperan. Pemerintah belum maksimal. Contohnya, pemerintah belum serius mengelola peraturan, seperti bagaimana seharusnya warung-warung yang ada di sini dilokalisir. Padahal di pos 1, mereka memungut tiket, lalu uangnya masuk ke PNPB (pendapatan negara bukan pajak),” sambungnya kepada Aktual.co, beberapa waktu lalu.
Dalam perbaikan sarana umum, Opik juga mengatakan, pemerintah seperti ogah-ogahan. Suatu saat, Opik dan rekan-rekannya sempat mengajukan perbaikan musholla dan toilet di pos 2 Ghoberhoet. Namun, pemerintah bilang, “Nantilah, anggarannya belum ada.”
Padahal, pengunjung yang naik ke Papandayan lumayan besar. Di bulan Agustus saja ada delapan ribu pendaki yang bertandang. Kalau setiap rombongan dikenakan biaya Rp20 ribu, maka pendapatannya lumayan besar.
Opik mengaku warga juga aktif menjaga kebersihan gunung. Dalam kurun waktu tertentu sering dilakukan operasi bersih. “Papandayan bersih juga karena warga. Anak-anak (volunter) selalu menjaga kebersihan, dari gunung sepi, sampai sekarang ramai. Apalagi, anak-anak menggantungkan hidup dari sini,” tambahnya. 
Tak hanya itu, volunter juga rajin melakukan konservasi penanaman pohon dan mengidentifikasi ekosistem yang ada di gunung ini. Hal ini dilakukan agar tercipta keseimbangan alam. Untuk proses identifikasi, juga menjadi penting agar pendaki Indonesia bisa tahu apa saja yang dimiliki gunung ini. “Jadi tidak lagi harus ke luar negeri untuk mencari data,” tambah Opik.
Potensi flora di dalam kawasan gunung Papandayan diantaranya Pohon Suagi (Vaccinium Valium), Edelweis (Anaphalis Javanica), Puspa (Schima Walichii), Saninten (Castanea Argentea), Pasang (Quercus Platycorpa), Kihujan (Engelhardia Spicata), Jamuju (Podocarpus Imbricatus ) dan Manglid (Magnolia). 
Sedangkan potensi fauna kawasan ini diantaranya Babi Hutan (Sus Vitatus), Trenggiling (Manis Javanicus), Kijang (Muntiacus Muntjak), Lutung (Trachypitecus Auratus) serta beberapa jenis burung antara lain Walik (Treron Griccipilla) dan Kutilang (Pycononotus Aurigaste).
Terpisah, salah satu pendaki Olfi, mengatakan, secara umum pengelolaan gunung Papandayan lumayan oke. Lihat saja infrastruktur jalan yang sudah menunjang taman wisata alam ini.
“Kita sih ke Papandayan main saja. Di kampus kan banyak rutinitas, nah sekarang kita cari suasana baru. Kalau untuk pengelolaan sudah bagus. Dari sisi jalan sudah baik, dari pertigaan Cisurupan sampai ke pos 1 sudah bagus. Berbeda dengan dua tahun lalu sudah yang masih buruk. Toilet sudah bagus,” kata pendaki perempuan yang juga mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Padjadjaran (Unpad) ini.
Soal penarikkan tiket masuk, Olfi mengaku tidak tahu jika mengalir sebagai PNBP. Ia juga tidak paham pengelolaannya seperti apa.
Terlepas ketidaktahuan Olfi, ada baiknya jika dilakukan transparansi dalam pengelolaan dana. Ini harus dilakukan untuk menghindari saling curiga antar pihak terkait. Bukan hanya itu, transparansi dilakukan agar pengelolaan Papandayan lebih baik lagi.

(Warnoto)