Ekonon Senior, Rizal Ramli saat diskusi dengan tema “Indonesia Perlu Pemimpin Optimis yang Bawa Perubahan” di gelar di Tebet, Jakarta Selatan, Senin ( 25/2/2019). Rizal mengungkapkan bahwa penurunan angka kemiskinan di era Jokowi – JK menunjukan paling rendah dari era kepemimpinan semua presiden sebelumnya sejak reformasi. AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, Aktual.com – Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit perbankan tahun depan akan lebih baik dari tahun ini. Hal itu juga diiringi dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga atau DPK yang membaik.

Pertumbuhan kredit dan DPK akan meningkat masing-masing menjadi 10-12 persen dan 8-10 persen pada 2020,” kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam Laporan Akuntabilitas Awal Tahun 2020, Jumat (31/1).

Ekonom Senior Rizal Ramli mengatakan beberapa hari belakangan ini banyak orang bertanya kepada dirinya mengapa mencari uang sekarang ini terasa kian susah.

“Saya selalu menjawab pertanyaan serius seperti ini dengan mengacu pada data dan menganalisis kebijakan pemerintah kita yang relevan dengan pertanyaan susahnya mencari uang itu,” jelas Mantan Menko Ekuin era Presiden Gusdur ini, Santu (1/2).

Sebab kata Rizal terlepas dari masalah emonomi global, kebijakan domestik selalu berpengaruh lebih besar terhadap cepat lambatnya laju ekonomi sebuah negara, sulit mudahnya mencari pekerjaan, susah gampangnya mencari uang.

Dari data yang ada, pertumbuhan kredit tahun lalu hanya sekitar 6,08% atau melambat 11,75%. Dalam situasi ekonomi yang normal, kredit biasanya tumbuh 15-18%. Jadi pertumbuhan kredit kita memang terhitung kecil. Itu pertumbuhan kredit terendah selama 20 tahun terakhir. Tidak aneh daya beli merosot.

“Lambat lajunya pertumbuhan kredit itu, lebih karena kebijakan pengetatan ekonomi, yang sekaligus memukul daya beli jadi merosot. Uang justru banyak tersedot untuk membeli Surat Utang Negara (SUN) yang bunganya lebih tinggi dari bunga deposito,” ungkap Mantan Menko Kemaritiman ini.

Dari pertumbuhan kredit tahun lalu kata Rizal, kebijakan yang serba pengetatan, plus miskinnya terobosan, saya perkirakan pertumbuhan kredit tahun 2020 ini akan lebih rendah lagi dari tahun 2019.

Hitungan ini lebih realistik karena telah terjadi pengetatan ganda atau double squeezes yaitu moneter dan fiskal. Pengetatan ganda ini akan semakin menekan daya beli dan ekonomi secara keseluruhan. Telah terjadi effect crowding out karena utang kita yang kian besar.

“Disamping itu, penghapusan subsidi pupuk, gas, kenaikan tarif toll dan iuran BPJS akan membuat rakyat kian kesulitan,” pungkasnya.

(Arbie Marwan)