Warga mengambil air di galian lubang yang mereka buat pada aliran Sungai Cipamingkis yang mengering akibat musim kemarau panjang di kawasan Cibarusah, Cikarang, Jawa Barat, Sabtu (29/8). Akibat kemarau panjang, warga sekitar harus rela mengambil air di Sungai Cipamingkis setiap pagi dan sore hari. Kekeringan yang melanda Jonggol sejak lebih dari satu bulan yang lalu ini mulai membuat kesal warga Jonggol, karena bantuan air bersih yang dijanjikan pemda setempat tidak rutin. AKTUAL/TINO OKTAVIANO

Kupang, Aktual.com – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan, 44 wilayah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami kekeringan ekstrem.

“Ke-44 wilayah tersebut tersebar di 13 kabupaten/kota yang ada di provinsi berbasis kepulauan ini,” kata Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Kupang, Apolinaris Geru terkait kekeringan di NTT.

“Berdasarkan monitoring hari tanpa hujan berturut-turut (HTH) dasarian I Agustus 2019, Provinsi Nusa Tenggara Timur pada umumnya mengalami HTH dengan kategori sangat panjang (31-60 hari) hingga kekeringan ekstrem (lebih dari 60 hari),” katanya, Kamis (15/8).

Bahkan beberapa wilayah di NTT yang sudah mengalami hari tanpa hujan dengan kategori kekeringan ekstrem (>60 hari), katanya.

Wilayah-wilayah yang masuk kategori kekeringan ekstrem itu adalah sekitar Waepana di Kabupaten Ngada, sekitar Danga dan Rendu di Nagekeo.

Wilayah sekitar Nanganio dan Wolojita di Kabupaten Ende, wilayah sekitar Stamet Maumere, Magepanda dan Waigete) di Kabupaten Sikka.

(Abdul Hamid)