“Saya mencari lentera murah dengan kualitas bagus buat empat cucu saya,” kata Reda Mohammed, Kamis siang.

Saat itu, ia akan memasuki satu toko besar yang menjual lentera Ramadhan, Saat memeriksa lentera kecil yang berwarna merah dan biru, perempuan yang sudah pensiun tersebut mengatakan Ramadhan takkan berarti tanpa membeli lentera buat anak kecil.

Fanoos muncul di Mesir selama Kekhalifahan Fathimiyyah ratusan tahun lalu, ketika benda itu berfungsi untuk menerangi jalan tapi belakangan menjadi mainan tradisional anak-anak untuk bermain di luar rumah selama malam hari bulan Ramadhan.

“Ramadhan selama menjadi bulan kegembiraan buat anak kecil dan anak muda … Anak-anak merasa sangat gembira ketika mereka berkeliling kampung dengan membawa lentera mereka setelah menyantap Iftar (makanan berbuka puasa),” tambah wanita itu.

Reda mengeluhkan harga lentera yang tinggi tahun ini. Namun, ia mengatakan ia harus membeli lentera sebab itu telah menjadi budaya yang diwariskan buat sebagian besar Muslim Mesir.

“Tahun lalu, saya mengeluarkan 20 pound untuk setiap lentera. Tahun ini harga barang yang hampir sama telah lebih dari 30 pound,” katanya.

Mesir telah menderita resesi ekonomi dalam beberapa tahun belakangan, kondisi yang telah menyebar akibat kerusuhan politik dan masalah keamanan yang berkaitan, sehingga negeri tersebut melancarkan rencana pembaruan ketat, langkah penghematan, pengambangan mata uang lokal dan pemangkasan subsidi energi.

Artikel ini ditulis oleh:

Andy Abdul Hamid