Denpasar, Aktual.com – Bupati Gianyar I Made Agus Mahayastra menginginkan Agro Learning Center (ALC) dapat menjadi percontohan pengembangan ilmu pertanian dan pusat pendidikan berbasis teknologi bagi generasi muda di tengah kondisi pandemi COVID-19.

“Saya sangat berharap ALC nantinya menjadi percontohan dan kebanggaan kita bersama. Tidak hanya bagi warga sekitar, sekaligus untuk daerah-daerah lainnya,” kata Bupati Agus Mahayastra saat menghadiri kegiatan penanaman perdana di Agro Learning Center yang berlokasi di Gang Raya, Jalan Cekomaria, Denpasar, Minggu.

Menurut dia, pusat pendidikan di bidang pertanian dengan mengadopsi teknologi itu sangat penting di tengah minimnya minat generasi muda menekuni sektor pertanian.

“Apalagi kini di saat pandemi, banyak orang yang kembali beralih menanam sayur. Orang yang kreatif dengan banting setir ke pertanian, tentunya jauh lebih baik dibandingkan hanya diam dan putus asa menerima kondisi terkena pemutusan hubungan kerja,” ujarnya.

Meskipun diakuinya masih saja ada yang nyinyir ketika ada yang kembali bertani dan lebih menuntut peran pemerintah untuk menolongnya.

“Gerakan yang dilakukan untuk pengembangan ALC ini kami pandang luar biasa. Kalau saja ini adanya di Gianyar, pasti akan saya dukung penuh untuk pengembangannya,” ucap Bupati yang tinggal di Gang Raya, Jalan Cekomaria tersebut sejak belasan tahun lalu yang lalu itu.

Mahayastra paham betul bahwa pertanian sangat penting artinya untuk ketahanan pangan. Di Gianyar, menurut dia, meskipun lahan pertaniannya lebih kecil dibandingkan di Kabupaten Tabanan, namun selama ini pertahunnya sudah berhasil surplus beras hingga 40 ribu ton.

“Nanti jika di ALC ini mengadakan Rembug Tani, saya juga akan hadir untuk mendengarkan pemaparan dari para ahli pertanian,” kata Bupati yang dalam kesempatan tersebut didaulat menanam bibit pohon pepaya itu.

Sementara itu, I Nyoman Baskara mengatakan pendirian Agro Learning Center itu digagasnya bersama I Nyoman Wiratmaja di atas lahan seluas 30 are.

“Pendirian ALC dengan melibatkan warga sekitar sini merupakan mimpi besar kami yang ingin kami dedikasikan untuk pertanian Bali,” ujar Baskara, penggagas ALC sekaligus Ketua Komunitas Inovasi Teknologi Agro (KITA) Indonesia itu.

Di ALC tersebut tidak hanya ditanami berbagai jenis tanaman hortikultura dengan mengadopsi teknologi terkini dan asing, sekaligus akan dibuat program pelatihan setara Diploma I.

“Kami di sini juga merangkul ahli-ahli pertanian dan ekonomi. Jadi menjadi pusat pelatihan sekaligus pusat informasi pertanian, tidak saja mendapatkan teori dari para pakar, sekaligus bisa langsung praktik,” ucapnya.

Pihaknya juga telah merancang program Rembug Tani setiap bulannya dengan mengundang para ahli pertanian dari berbagai kampus, juga dari Dinas Pertanian.

Menurut Baskara, setidaknya ada dua isu strategis yang mendasari dibentuknya ALC tersebut. Pertama, isu ketahanan pangan di tengah kondisi pandemi COVID-19.

“Dengan adanya pembatasan-pembatasan, akan ada daerah yang harus bertahan dengan produksi daerahnya sendiri. Terlebih Bali yang selama ini mengandalkan sektor pariwisata, suplai bahan pangannya sangat tergantung dari daerah lain,” ucapnya.

Oleh karena itu, lanjut dia, masyarakat sudah sepatutnya memanfaatkan lahan pekarangan yang dimiliki. Jadi semua bisa berkontribusi dengan ketahanan pangan mandiri.

“Kemudian isu Kedua, ketahanan pangan di Bali yang sudah bermasalah karena minimnya minat generasi muda untuk menekuni pertanian. Ini tentu menjadi tantangan bagi kami,” ucap Baskara yang juga Ketua Yayasan Tamiang Bali itu.

Kepala Dinas Pertanian Kota Denpasar I Gede Ambara Putra mengapresiasi terbentuknya ALC tersebut, di tengah tingginya alih fungsi lahan pertanian di Kota Denpasar.

“Kami siap membantu dan juga belajar belajar bersama-sama di sini. Kami sangat berharap generasi muda dapat kembali mencintai pertanian dan itu salah satunya bisa dimulai dari sini,” ujarnya.(Antara)