Jakarta, Aktual.com — Di Indonesia masih banyak pasangan yang tengah menikah namun sulit mendapatkan momongan. Berdasarkan data BPS tahun 2008, jumlah wanita usia reproduksi sekitar 39,8 juta orang dan yang mengalami gangguan kesuburan 10-15 persen (empat juta orang).

Akhirnya, banyak pasangan yang beralih pada program bayi tabung atau sering disebut “In Vitro Fertilization (IVF)”. Meskipun saat ini bayi tabung berhasil mewujudkan impian pasangan memiliki momongan, namun hal tersebut masih membutuhkan catatan penting yang perlu Anda ketahui.

Dijelaskan oleh dr.Yassin MIB,SpOG, Msc dalam seminar media bertema ‘SMART IVF Indonesia: klinik bayi tabung dari dan untuk Indonesia’ bagaimana program bayi tabung tersebut dijalankan.

“Program bayi tabung merupakan salah satu cara untuk mendapatkan kehamilan pada pasangan infertilitas (gangguan kesuburan) dengan cara mempertemukan sperma dan sel telur di luar tubuh manusia. Kemudian setelah terjadi pembuahan, sejumlah 2-3 embrio akan ditanam kembali ke rahim si calon ibu,” terang dokter Yassin, kepada wartawan, di Jakarta, Selasa (22/12).

Lebih lanjut, dr.Yassin mengatakan, bahwa ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan untuk melakukan program bayi tabung tersebut. Di antaranya, usia kronologis ovarium yang dihitung sejak kehidupan intra uteri, dan usia biologis ovarium yang lebih menggambarkan cadangan ovarium serta responnya terhadap proses stimulasi ovarium.

“Seiring dengan bertambahnya usia seorang perempuan, maka kemampuannya dalam memproduksi sel telur dengan kualitas dan kuantitas yang baik semakin menurun. Dalam hal ini terdapat dua aspek, yaitu usia kronologis ovarium yang dihitung sejak kehidupan intra uteri, dan usia biologis ovarium yang lebih menggambarkan cadangan ovarium dan responnya terhadap proses stimulasi ovarium. Dengan demikian usia kronologis ovarium bisa saja berbeda dengan usia biologisnya,” jelas ia menutup pembicaraan.

()