Prof. Dr. Supandi, SH, M.Hum Tokoh Utama dalam Buku 'Bocah Kebon dari Deli'

Jakarta, Aktual.com – Ini kisah menarik yang terungkap di buku ‘Bocah Kebon Dari Deli’, buku biografi Prof. Dr. Supandi, SH, MHum. Pengalaman masa kecil Prof. Supandi tertuang lucu dan jenaka, tatkala dirinya masih sebagai penggembala kambing dan sapi. Dia yang dibesarkan di Kawasan Saentis, Sumatera Utara, saban hari sepulang dari sekolah, langsung menggembalakan kambing dan sapi di tengah hutan. Kegiatan itu dilakoninya Bersama kawan-kawannya yang dikenal dengan ‘Bocah Kebon.’ Mereka kerap bermain riang gembira di tengah hutan, sembari menggembala.

Kisah keriangan anak gembala itu pun tertuang apik dalam buku ‘Bocah Kebon Dari Deli’ tersebut. Buku ini tersedia dijual bebas di toko buku Gramedia seluruh Indonesia. Tampak antusiasme pembaca menyambut kehadiran buku biografi yang ditulis dengan gaya Bahasa yang menarik dan enak dibaca tersebut. Pantauan Aktual.com, di toko buku Gramedia Matraman, Jakarta dan Depok, buku itu nyaris ludes diserbu pembeli. Berbagai kalangan membeli dan membaca buku biografi itu dengan berbagai ekspresi. “Kisahnya lebih sedih dan membahagiakan dibanding cerita ‘Laskar Pelangi’”, papar Luyani (19), mahasiswi asal Universitas Indonesia yang membeli buku tersebut di toko buku Gramedia Depok.

Buku ‘Bocah Kebon Dari Deli’ Tersedia di Toko Buku Gramedia

Memang, sajian kisah yang terungkap di buku ‘Bocah Kebon Dari Deli’ ini diwarnai kisah seru. Selain perjalanan hidup Prof. Supandi, yang kakek buyutnya seorang ‘Tumenggung’ di Keraton Surakarta, juga dipenuhi kisah-kisah jenaka yang membuat pembaca tersenyum. Dan kadang juga menangis, tatkala membacanya. Berikut ini petikan kisah lucu yang termuat dalam buku ‘Bocah Kebon Dari Deli’.

***

“Dooorrrr….doorrrrrr…….dooorrrrrr…..”
“Kau udah kena ya, jangan main lagi,” suara kawan saya.
Ini di tengah hutan. Siang yang panas, kami tengah asyik bermain perang-perangan. Kesemuanya adalah bocah kebon yang lagi angon kambing dan sapi. Karena kambing-kambing dan sapi lagi asyik makan rumput, kami pun berkumpul. Bermain perang-perang.

Saat itu ada sekitar 20 orang yang angon. Agak ramai hari ini. Di sela-sela gembala, kami mengisi waktu luang dengan bermain perang-perangan. Maka dibentuklah dua regu. Ada yang jadi ‘Belanda’ dan ada yang jadi ‘Indonesia.’ Kami bertempur satu sama lain.
Sebelum itu, setiap regu sudah dibagi jatah kepangkatan. Ada yang jadi Jenderal, kopral, mayor sampai kapten. Semuanya sudah terbagi. Saya kebetulan mendapat pangkat ‘Jenderal.’ Saya komandan regu kubu ‘Indonesia.’

Kemudian kami pun bersembunyi. Mencari tempat untuk menembak lawannya, kubu ‘Belanda.’ Tempat bersembunyi sangat banyak. Karena ini permainannya di tengah hutan. Persis ketika gembala. Jadi kami merasakan bagaimana suasana perang betulan. Antara Indonesia melawan Belanda.

Perang pun di mulai. Masing-masing memburu lawannya. Suara tembakan pun terdengar. Ketika lawan yang sembunyi, ketahuan lokasinya.
“Dooorrrr….doooorrrr……doorrrrrr….”

Suara itu bersahut-sahutan. Tapi suara itu muncul dari mulut kita saja. Sambil membawa senjata yang sudah dibuat dari kayu. Ada yang membuat pistol-pistolan dari batang daun pisang. Ada juga yang dari kayu. Semuanya dengan senjata racikan dan buatan masing-masing.

Begitu ada yang sudah di dor, maka dia harus berhenti bermain. Tak boleh main lagi. Tinggallah yang bersembunyi-sembunyi untuk memburu lawannya yang lain.
Saya yang berpangkat ‘Jenderal’, kemudian bertemu dengan ‘Jenderal’ lawan. Hampir berhadap-hadapan. Saya bersiap-siap mau menembak dia. Tapi ya tentu dengan suara dari mulut saja. Supaya dia kena.

Saya bersembunyi di semak-semak. Saya mengintip ‘Jenderal’ lawan saya itu. Tapi begitu diintip, tiba-tiba perang terhenti. Bukan karena terjadi perdamaian. Saya memberi isyarat pada ‘Jenderal’ di seberang. Di pinggir kali kecil di tengah hutan, persis di depan kami bersembunyi, ternyata ada sekitar 12 ekor babi. Babi-babi itu lagi asyik makan. Satu ekor induknya sangat besar. Sisanya anak-anaknya yang masih kecil. Melihat adanya babi, saya memberi isyarat dengan tangan pada ‘Jenderal’ lawan saya itu. Maka dia pun memberi isyarat pada kawan-kawan lainnya. Perang pun langsung terhenti.

Kami mengintip dan mengintai babi-babi itu dari jauh. Semuanya merapat dan mendekati. Kami berkumpul dan berdiskusi supaya babi itu bisa ditangkap. Kebetulan siang itu angin berhembus dari belakangnya babi. Jadi dia tidak mengendus keberadaan kami. Padahal babi itu sangat sensitif penciumannya. Apalagi jika ada manusia. Dia pasti akan langsung lari. Nah, kehadiran kami dibantu dengan datangnya arah angin yang datang dari belakangnya. Jadi dia tak bisa menciumnya.

Kawan-kawan semua berkumpul mendekati babi. Saling mengintip dan berbisik.
“Kita panggil aja Ajun,” kata kawan saya sambil berbisik.
“Kita tangkap aja dulu,” jawab yang lain berbisik-bisik.

Siapa Ajun ini. Dia ini orang Cina yang tinggal di kampung kita. Maklum, orang Cina masih doyan makan babi. Bagi mereka binatang ini tidak haram. Sebelumnya, kita anak gembala ini, sudah berangan-angan jika suatu kali ketemu babi di hutan, kita bisa jual ke Ajun itu. Nanti uangnya bisa untuk membeli bola sepak. Begitulah impian kami, anak gembala yang tidak memiliki uang. Karena bagi kami saat itu, memiliki bola kaki saja sudah seperti barang mewah. Bola yang terbuat dari kulit, bukan plastik. Itu dianggap barang yang langka di kalangan anak-anak kebon. Tapi kami sangat hobby bermain bola kaki. Nah, si Ajun ini memiliki senapan jenis ‘LE’ yang bisa digunakan untuk menembak babi. Makanya dia sering berburu babi juga ke hutan dengan senapan itu.

Dua orang kawan saya mencoba mendekati induk babi itu. Memang induk babi itu badannya besar. Di hidung babi itu sebetulnya ada taringnya. Jika kita diseruduk, kita bisa terjungkal. Bisa berbahaya juga. Apalagi kakinya sangat keras. Jika kakinya menendang kepala kita, bisa bocor dibuatnya. Makanya tak bisa bermain-main dengan babi.

Dua orang kawan itu makin mendekat babi itu. Mereka hendak mendekati dan menangkap induk babi. Mereka berjalan pelan-pelan. Mendekati babi itu selangkah demi selangkah. Babi itu masih belum merasakan kehadiran dua manusia di belakangnya.
Lama-lama makin mendekat. Selangkah demi selangkah. Tiba-tiba, dalam hati saya bergidik. Saya tak tega melihat mereka melakukan itu. karena kawan saya hendak menangkap babi itu. Saya sebetulnya agak geli juga. Tapi mereka perlahan makin mendekati induk babi.

Dalam hati saya ada yang ingin keluar. Lalu saya berteriak kencang,
“Whoooiiiiiiiiiii…………….!” kata saya kencang.

Teriakan itu ternyata membuat babi-babi itu terkaget. Dia tak menyangka ada manusia. Alhasil babi-babi itu lari. Mereka melompat. Dan berusaha melompati parit yang ada di depannya. Tapi lebar parit itu sekitar 3 meter. Ternyata lompatan babi itu tak sampai melewati parit. Alhasil babi-babi itu tersangkut di pasir di dalam parit itu. induk babi yang besar juga terjungkal di dalam parit. Hidungnya terbenam. Alhasil dia tak bisa bergerak ke sana kemari. Karena tersangkut hidungnya dalam lumpur.

Beberapa anak babi juga tersangkut. Ada yang juga yang berhasil lepas. Tapi kami mengejarnya. Kami kepung anak-anak babi itu. suara teriakan babi pun bersahutan. Saya agak geli juga mendengarnya. Tapi kawan-kawan saya memang dasar ada yang bandal, mereka tenang saja melihat hal itu.

Karena induk babi tersangkut, maka dia tak bisa bergerak. Disitulah kami berinisiatif memanggil si Ajun tadi. Kami beritahukan bahwa kami berhasil menangkap babi.
Ada beberapa orang kawan yang keluar hutan untuk memanggil Ajun. Tak beberapa lama kemudian si Ajun datang dengan membawa tombak besar. Melihat ada babi yang tersangkut yang berhasil kami tangkap, seketika dia langsung menombak babi itu. Babi itu pun berteriak-teriak kesakitan. Darahnya mengucur seketika. Babi itu pun mati. Ajun memboyongnya ke rumahnya. Dia seperti mendapatkan durian runtuh. Mendapat seekor babi besar, tentu bak mendapat daging mewah buatnya.

Sisanya, anak-anak babi yang lainnya, dia masukkan ke dalam karung. Dia bawa juga ke rumahnya. Hari itu dia berhasil membawa 12 ekor babi, hasil tangkapan kami, anak-anak gembala.

Dari situ Ajun memberi kami uang banyak. Karena kami telah memberikan dia babi banyak. Uang itu pun kami beli bola kaki yang ada jaringnya. Makanya kami kemudian bisa bermain sepak bola di tengah hutan. Anak kota bermain sepak bolah di lapangan bola. Kami bermainnya di tengah hutan. Karena kami memang anak gembala.

Uangnya juga kami belikan jaring. Kami bisa bermain olahraga yang lain juga. Ada lebihnya juga kami bisa membeli celana kolor. Inilah atribut kami selama di hutan.
Siang itu kami bah mendapat rezeki berlimpah. Kami seterusnya bisa bermain sepakbola dengan riang. Tak lagi bermain perang-perangan, selagi kami masih memiliki bola. Rasa kebersamaan di tengah hutan pun makin menjadi. Rasa lapar sebagai gembala pun makin tak terasa.

***

(Nurman Abdul Rahman)