Jakarta, Aktual.com – Saudaraku, siang itu terang, jangan kaugelapkan dengan kebencianmu. Gerhana matahari cepat berlalu; gerhana hati berakhir tak tentu. Kelamnya hati hanya bisa diakhiri dengan terbitnya fajar cinta.

Cinta itu menerangi, sedang benci itu menggelapi. Cinta itu melapangkan, sedang benci itu menyempitkan. Dalam gerhana hati, manusia lebih menghidupi kegelapan dan kesempitan.
Hati itu cermin pemantul cahaya Tuhan.

Cermin hati yang kotor, tak bisa memantulkan nur Ilahi. Cahaya Tuhan bisa menampakkan diri dalam aneka warna, sesuai dengan warna kaca. Dalam kaca hati yang kotor, satu-satunya warna yang terpantul adalah gelap.

Gosoklah cermin hatimu dengan sentuhan cinta. Niscaya akan kau saksikan warna-warni pancaran kasih Ilahi. Segala perbedaan dirayakan dengan riang dan syukur sebagai pancaran kekayaan sumber yang sama: Sang Mahacahaya.

(Yudi Latif, Makrifat Pagi)

(Andy AbdulHamid)