Petani menaikkan tebu rakyat ke atas truk saat panen di kawasan Wonoayu, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (13/6). Pemerintah menetapkan Harga Patokan Petani atau HPP Gula Kristal Putih (GKP) 2016 sebesar Rp9.100 per kilogram dengan rendemen 85 persen naik 2,25 persen dari HPP tahun 2015 sebesar Rp8.900 per Kilogram. ANTARA FOTO/Umarul Faruq/pd/16

Jakarta, Aktual.com – Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Jember Yeyek Sugiarto mengatakan produksi gula di kabupaten setempat menurun sekitar 4.000 ton dibandingkan pada periode yang sama tahun 2015 karena curah hujan yang cukup tinggi.

“Jumlah produksi gula di Jember tahun 2015 mencapai 30.000 ton, sedangkan tahun ini lebih rendah karena masih sekitar 26.000 ton akibat curah hujan yang tinggi menyebabkan rendemen tebu turun,” katanya saat dihubungi dari Jember, Kamis (22/12).

Menurutnya pihak Pabrik Gula Semboro bersama APTRI menargetkan sebanyak 9.000.500 kuintal tebu untuk musim giling tahun 2016, namun hingga kini masih terealisasi sekitar 8.000.000 kuintal tebu.

“Penurunan produksi gula disebabkan musim hujan yang masih mengguyur Jember mulai pertengahan tahun hingga akhir tahun, sehingga hal itu berdampak pada rendemen tebu yang rendah dan produksi menurun,” tuturnya.

Padahal tahun 2015, lanjut dia, petani masih mendapatkan keuntungan karena pertengahan tahun lalu masih musim kemarau, sehingga kondisi itu cukup bagus bagi tanaman tebu karena tingkat rendemennya tinggi dan tahun ini musim hujan terjadi hampir sepanjang tahun.

“Rendemen tebu terus menurun setiap bulannya, mulai dari 7 persen hingga saat ini berada diposisi 5,4 – 5,5 persen. Angka rendemen itu jauh lebih rendah dibandingkan periode sama tahun lalu yang berkisar 8,5 – 10 persen,” katanya.

Yeyek mengatakan biaya produksi tanaman tebu sekitar Rp10 juta per hektare yang meliputi biaya pupuk, jasa tebang panen dan jasa angkut tebu, dengan rata rata produksi tebu sebanyak 800 – 1.000 kuintal per hektare.

“Tahun ini pendapatan petani hanya sekitar Rp2 juta per hektare, bahkan tidak jarang merugi karena ada juga petani yang tidak memiliki lahan, sehingga mereka sewa lahan. Kerugian petani yang menyewa lahan bisa lebih tinggi dibandingkan petani yang memiliki lahan sendiri,” ujarnya.

Berdasarkan data APTRI Jember, jumlah petani di wilayah setempat sekitar 2.000 orang yang tersebar di 31 kecamatan, namun jumlah petani yang menanam tebu tahun depan diprediksi berkurang karena mengalami kerugian tahun ini.

Sementara Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan (Disbunhut) Kabupaten Jember Masykur membenarkan hancurnya kondisi tanaman tebu dan kerugian petani tidak hanya disebabkan rendahnya rendemen.

“Selain bergantung pada kondisi cuaca, petani juga bergantung pada harga lelang gula. Pada saat ini, harga lelang gula juga terus menurun dibandingkan beberapa bulan sebelumnya dari Rp13.000 menjadi Rp11.000 per kilogram,” imbuhnya.

Ia mengatakan Pemkab Jember tidak bisa berbuat banyak terhadap persoalan itu karena penetapan harga lelang murni ditetapkan PG Semboro, namun pihaknya mencari alternatif lain untuk membantu petani yakni satunya menghubungkan petani dengan pihak perbankan, agar mendapatkan kredit lunak untuk modal untuk biaya tanam nanti.

(Eka)