Baghdad, Aktual.co — Data neraca perdagangan antara Irak dan Indonesia, yang biasa dirilis oleh Kementerian Perdagangan RI, sebetulnya tidak akurat.
Hal ini karena banyak produk Indondesia yang sampai di Irak tidak dikirim langsung ke Irak, tetapi melalui Dubai. Jadi produk itu tercatat sebagai ekspor Indonesia ke Uni Emirat Arab, bukan ke Irak.
Demikian dinyatakan Dubes RI untuk Irak, Safzen Noerdin, kepada Redaktur Senior Aktual.co, Satrio Arismunandar, yang melaporkan langsung dari Baghdad, ibukota Irak, Minggu (1/3).
Kondisi itulah yang membuat angka neraca perdagangan Irak-Indonesia terlihat seolah-olah selalu kecil. “Padahal jika kita mengecek langsung kondisi pasar di Irak, banyak produk Indonesia yang masuk ke Irak. Namun itu semua tidak tercatat di Kementerian Perdagangan,” ujar seorang staf Kedutaan Besar RI di Baghdad.
Menurut data Kementerian Perdagangan RI, total perdagangan RI-Irak 2014 adalah USD72,659 juta . Perdagangan ini surplus di pihak Indonesia, dengan ekspor sebesar USD72,290 juta , sedangkan impornya cuma USD369,7 ribu. Seluruh ekspor dan impor ini adalah produk non migas.
Total perdagangan ini meningkat hampir 60 persen dibandingkan tahun 2013. Total perdagangan RI-Irak tahun 2013 adalah USD45,519 juta. Perdagangan 2013 ini surplus di pihak Indonesia, dengan ekspor sebesar USD45,404 juta, sedangkan impornya cuma USD114,3 ribu. Bisa dibilang, seluruh ekspor dan impor ini adalah produk non migas.
Sedangkan total perdagangan Irak-RI tahun 2012 adalah USD44,993 juta, atau kira-kira sama dengan 2013. Komposisi migas dan non migasnya juga bisa dibilang sama saja. Tetapi total perdagangan Irak-RI yang berbeda mencolok adalah pada 2011, yang mencapai USD154,869 juta.
Artikel ini ditulis oleh:













