Jakarta, Aktual.com – Setelah pernyataan Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat (PD) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menyebutkan adanya tanda-tanda Pemilu 2024 akan berlangsung secara tidak jujur dan tidak adil.

Merespon hal tersebut, PDI Perjuangan (PDIP) mengungkit adanya kecurangan sangat masif sampai menaikkan elektoral Partai Demokrat 300 persen pada Pemilu 2009.

Merespons pernyataan PDIP, Demokrat mengatakan kenaikan tiga kali lipat dikarenakan prestasi Ketum mereka, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dirasakan masyarakat.

“Bang Hasto, Demokrat tahun 2009 suaranya bisa meningkat tiga kali lipat karena prestasi pemerintahan SBY yang dirasakan manfaatnya oleh rakyat. Rakyat miskin semakin sedikit. Pengangguran semakin sedikit. Gaji PNS termasuk guru dan TNI POLRI hampir tiap tahun meningkat. Daya beli masyarakat tinggi. Pendapatan per kapita meningkat drastis. Dan, keuangan negara stabil. Bahkan hutang minim. Pembangunan infrastruktur juga berjalan dengan baik,” kata Ketua Bakomstra Demokrat Herzaky Mahendra, Minggu (18/9).

Herzaky menuturkan saat itu tidak ada polarisasi antar anak bangsa. Dia menilai wajar jika suara Demokrat meningkat drastis lantaran saat itu berpendapat dan mengkritik bebas dilakukan tanpa adanya intimidasi dan diskriminasi.

“Hubungan antar-umat beragama dan antar suku bangsa juga sangat baik dan rukun. Tidak ada polarisasi antar anak bangsa. Oposisi, masyarakat sipil, dan mahasiswa bebas mengkritik tanpa takut diintimidasi, apalagi dikriminalisasi. Ya makanya wajar saja, suara Demokrat tahun 2009 meningkat drastis,” ujarnya.

“Jadi, rakyat benar-benar merasakan hasil pembangunan di pemerintahan era SBY. Bukan hanya dirasakan oleh segelintir pihak saja. Tidak ada itu DPT 2009 bermasalah ataupun hasil Pemilu yang dimanipulasi. Janganlah mengada-ngada Bang Hasto,” lanjut Herzaky.

Ia kemudian menyinggung komisioner KPU saat Pemilu 2019, Harun Masiku yang merupakan kader PDIP dan saat ini menjadi buron KPK. Dia menyebut, tidak ada kecurangan yang terjadi pada 2009 seperti 2019.

“Lagipula, publik kan tahu kalau di Pemilu 2019 lalu, ada komisioner KPU yang ditangkap karena kasus suap. Kan, salah satu pelakunya kader partainya Bang Hasto, Harun Masiku, yang sudah buron 1000 hari lebih. Tidak ada cerita seperti itu di Pemilu 2009,” tuturnya.

Apa yang disampaikan SBY soal dugaan, lanjut dia, hanya akan ada dua pasangan calon dalam Pemilu mendatang hanya sekadar mengingatkan bahwa rakyat menginginkan lebih dari dua pasangan calon. Dia meminta PDIP tidak reaktif.

“Terakhir, pidato Pak SBY itu kan hanya mengingatkan agar aspirasi rakyat janganlah dihalang-halangi. Rakyat menginginkan lebih dari dua pasangan calon yang berlaga di 2024. Namanya Bapak bangsa, wajar saja kalau Beliau mengingatkan, agar para elit politik tidak berupaya mengamputasi harapan rakyat. Apalagi, dengan cara-cara yang tidak demokratis dan menyalahgunakan kekuasaan. Tidak perlu lah terlalu reaktif. Apalagi mengumbar hoax dan fitnah. Kecuali, kalau memang merasa skenario jahatnya ketahuan,” pungkasnya.

(Warto'i)