Imam Ghazali

Jakarta, Aktual.com – Di lansir dari kitab Hujjatul Islam, nama Imam Al-Ghazali adalah diantara sederet nama ulama yang sudah tidak asing lagi di telinga, baik di kalangan awam maupun para ulama. Beliau merupakan tokoh sentral dalam tubuh ahlu sunnah wal jamaah yang memiliki puluhan karya fenomenal.

Tradisi ilmu yang beliau bangun dan persembahkan sungguh telah mengubah wajah peradaban Islam pada masa itu. Bahkan, berkat keikhlasan dan ketulusannya, kebermanfaatan ilmu Imam Al-Ghazali masih dirasakan hingga dewasa ini lewat puluhan kitabnya yang masih didaras dan dikaji di berbagai tempat diseluruh penjuru dunia. Maka tokoh Imam Al-Ghazali ini bisa dijadikan sosok teladan bagaimana kedua aliran ilmu fiqih dan tasawuf dapat menyatu, saling menguatkan dan saling membela, bukannya saling menjatuhkan dan saling memusuhi.

Ibnu Asakir

Al-Imam al-Hafidz Ibnu Asakir berkata, “Abu Hamid al-Ghazali adalah seorang mujaddid abad ke lima hijriyah.”

Imam Ibnu al-Jauzi

Al-Imam Ibnu al-Jauzi berkata, “al-Ghazali telah banyak menulis buku dalam bidang ushul fiqih dan fiqih. Sulit mencari padanannya dalam hal kualitasnya, runutnya sistematika dan validitas sumber-sumbernya.

Al-Imam as-Subki

Al-Imam as-Subki dalam kitabnya Thobaqat as Syafi’iyah al-Kubro mengutip perkataan As’ad al Mihani, “hanya seorang yang sempurna akalnya (atau yang mendekati sempurna) yang mampu memahami keluasan ilmu dan keutamaan Imam Al Ghazali.

Muhammad bin Yahya, salah seorang murid senior Sang Imam memuji kehebatan gurunya itu dengan berkata, “al-Ghazali adalah Syafi’I kedua.”

Al-Imam adz-Dzahabi

Al-Imam adz-Dzahabi mengutip perkataan Ibnu an-Najjar di dalam kitabnya Siyar A’lam an-Nubala’,

“Abu Hamid (al-Ghazali) adalah seorang pemimpin ahli fiqih, orang yang alim, seorang mujtahid pada zamannya, tokoh besar pada masanya. Beliau adalah seorang yang sangat cerdas, kuat dan begitu dalam pemahamannya.”

Abdul Ghafir al-Farisi

Al-Imam al-Hafidz Abdul Ghafir al-Farisi berkata, “Abu Hamid al-Ghazali adalah hujjatul islam dan kaum muslimin. Seorang pemimpin agama. Belum ada yang menyamainya dalam hal kefasihan, pemahaman, pemikiran, kecerdasan, dan akhlak perangai.”

Serasa tak ingin ketinggalan, al-Imam an-Nawawi pun ikut memuji beliau dengan berkata, “Abu Hamid al-Ghazali adalah seorang imam yang faqih, ahli kalam yang cerdas, dan seorang penulis yang sufi.

Hampir tidak ada yang membantah soal kepakaran Imam Ghazali dalam dua cabang ilmu tadi. Bahkan dengan tegas Imam as-Suyuthi (w. 911 H) mengatakan Jika ada orang bodoh yang mengatakan bahwa Imam al-Ghazali bukan ahli fiqih, maka hukumanyang pantas baginya ialah dicambuk dengan keras, dan dipenjara dalam waktu yang lama.

Sebagai bentuk pelajaran hingga jangan sampai ada lagi orang bodoh yang mencela dan merendahkan ketika berbicara mengenai para ulama. Dan perkataan yang demikian itu, tidaklah muncul kecuali dari lisan orang yang super bodoh dan lemah agamanya. Dialah sebodoh-bodoh dan sefasik-fasiknya orang. Sedangkan Imam al Ghazali adalah hujjatul Islam dan tuannya para fuqoha di zamannya.

Beliau punya banyak karya agung dalam ilmu fiqih. Bahkan diskursus madzhab asy-Syafi’i saat ini tidak lepas dari karya-karyanya. Beliau meneliti, merevisi, mengonsep dan meringkas madzhab Syafi’i dalam kitabnya al Basith, al-Wasith, al-Wajiz dan al-Khulasoh. Dan karya-karya asy-Syaikhon (Imam ar-Rofi’i dan Iman an-Nawawi) banyak terilhami dari kitab-kitab an Nawawi.

(Ahmad Himawan)

 

(A. Hilmi)