Rumah-rumah warga di kawasan Zeitoun di Gaza yang menjadi target penghancuran Israel - foto X

Di sebuah ruang kelas lembap yang kini tak lagi menyimpan suara pelajaran, melainkan napas kehidupan yang rapuh, Maha al-Rubaie terbangun sesaat sebelum fajar. Ia tidak benar-benar tidur. Tubuhnya hanya berbaring, sementara pikirannya berjaga, seolah malam tak pernah benar-benar berlalu di tempat itu.

Tulisan ini disadur dari laporan Al Jazeera yang ditulis oleh Maram Humaid dan terbit pada Kamis, 26 Maret 2026.

Tangannya pelan menjulur ke arah ranjang bayi logam di sampingnya. Ia menyentuh dada kecil itu, memastikan satu hal yang paling ia takutkan, napas sang bayi. Baru setelah itu ia berani memejamkan mata, namun bukan untuk tidur, melainkan untuk terus mengawasi.

Di usia 56 tahun, Maha tidak pernah membayangkan akan dipanggil sebagai ibu. Namun kini, seorang bayi memanggilnya demikian.

“Saat ia membuka matanya dan menatapku, ia bergumam dengan bibirnya, ‘Mama,’” katanya sambil tersenyum malu. “Aku sudah terbiasa cucu-cucu saudaraku memanggilku ‘Teta’ [Nenek] tapi dia mau memanggilku Mama.”

Bayi itu bernama Hamza. Ia tidak pernah mengenal orang tuanya. Maha pernah mengalami kehilangan serupa. Ia membesarkan Omar, ayah Hamza, sejak remaja, setelah perang Gaza 2008 merenggut ayahnya. Kini, sejarah itu kembali berulang dengan cara yang lebih kejam.

“Aku membesarkan ayahnya ketika dia menjadi yatim piatu saat masih kecil, dan sekarang aku membesarkan putranya setelah dia juga menjadi yatim piatu,” jelas Maha, sambil menatap bayi itu dengan sedih.

Seluruh keluarga inti Hamza tewas dalam perang genosida Israel di Gaza. Kehilangan itu datang tiba-tiba, pada 18 Maret 2024, ketika Maha sedang menyiapkan makanan berbuka puasa bersama Diana, ibu Hamza. Sebuah bom menghantam rumah mereka.

“Debu hitam, puing-puing, dan pecahan peluru memenuhi udara,” cerita Maha.

Mereka berlari ke lantai atas, tempat anak-anak bermain. Namun yang tersisa hanya sunyi.

“Mereka terkubur di bawah reruntuhan, tidak ada suara, tidak ada gerakan,” kenangnya, suaranya terdengar getir.

Tiga anak pasangan itu tewas. Duka tak berhenti di situ. Diana mengalami depresi, sementara Omar kehilangan semangat hidup. Meski demikian, mereka mencoba bangkit dan kembali berharap.

“Omar dan Diana menangis histeris, terjebak antara kesedihan yang mendalam atas anak-anak mereka yang terbunuh dan kebahagiaan atas bayi yang akan lahir,” kenang Maha.

Namun harapan itu kembali direnggut. Saat Diana hamil sembilan bulan, bom kembali jatuh. Ia dan suaminya meninggal, sementara bayi dalam kandungan diselamatkan melalui operasi darurat.

“Bayangkan, tanggal lahirnya sama dengan tanggal kematian orang tuanya. Orang-orang yang paling disayanginya,” kata Maha, suaranya bergetar. “Kami menerima akta kelahiran dan dua akta kematian pada saat yang bersamaan.”

Sejak lahir, Hamza harus berjuang. Ia mengalami gangguan pernapasan dan harus dirawat intensif. Maha hanya bisa menatapnya di dalam inkubator, menunggu dengan cemas.

“Setelah lima hari, wajahnya membaik, dan kami memberinya nama Hamza,” kata Maha.

Ketika akhirnya ia bisa menggendong bayi itu, ada sedikit cahaya di tengah gelap yang panjang.

“Wajahnya tampan, berseri-seri. Melihatnya sedikit meringankan kesedihan dan duka di hati kami di tengah segala penderitaan yang mengelilingi kami.”

Namun kehidupan setelah itu tak pernah mudah. Hamza mengalami kejang berulang, sementara fasilitas kesehatan di Gaza runtuh akibat perang. Maha harus berjalan kaki setiap hari membawa bayi itu ke rumah sakit, tanpa kepastian perawatan yang memadai.

Hari-harinya dipenuhi kelelahan. Ia memanaskan air dengan kayu, menghirup asap tebal, dan berjuang dengan kondisi tubuhnya sendiri yang lemah. Namun ia tetap bertahan.

“Aku memaksakan diri untuk bangun dan bermain dengannya,” katanya, sambil menatap mata Hamza dan tertawa kecil bersamanya.

“Aku tak sanggup melihatnya sedih. Cukup sudah apa yang telah ia alami meskipun ia belum memahaminya,” tambahnya.

Segalanya telah hilang dari hidup Maha. Rumah, keluarga, masa lalu—semuanya lenyap. Namun satu hal tetap ada.

“Tapi anak ini tetap ada,” katanya, sambil membawakan botol susu untuk putra angkatnya. “Hamza telah memberi saya alasan untuk hidup.”

Di tengah reruntuhan Gaza, Maha tidak meminta banyak. Ia hanya berharap diberi waktu cukup untuk melihat anak itu tumbuh.

“Semoga Tuhan memperpanjang umurku agar aku bisa menyaksikan masa kecilnya – dan kebahagiaannya.”

Artikel ini ditulis oleh:

Andry Haryanto